Menu

Ini Penyabab Banjir Bandang Desa Tambelang Tompaso Baru

  Dibaca : 745 kali
Ini Penyabab Banjir Bandang Desa Tambelang Tompaso Baru

MAESAAN—Menjadi pembelajaran buat seluruh masyarakat untuk tidak sembarang melakukan  penebangan liar (perombakan hutan). Pasalnya, penyebab terjadinya bencana, seringkali bukan disebabkan faktor alam, melainkan akibat ulah manusia. Seperti bencana banjir bandang yang terjadi di wilayah Kecamatan Maesaan,  tepatnya Desa Tambelang, Selasa (4/7) lalu.

Hukum Tua Desa Tambelang Jendri Mokalu dalam wawancaranya dengan Indo Post, Rabu (5/7), mengakui hal tersebut. “Sudah hampir 50 tahun saya hidup dan tinggal di Desa Tambelang, baru kali ini terjadi banjir bandang. Dan ada kemungkinan penyebab terjadinya banjir bandang, selain karena curah hujan yang cukup tinggi, faktor lainnya adalah alih fungsi lahan. Dimana ada puluhan hektar  kawasan hutan lindung Gunung Wulurmaatus dibabat dan diubah menjadi lahan perkebunan,” ungkap Mokalu.

Camat Maesaan Drs Joyke Tangkere, tidak membantah akan hal tersebut. “Memang dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini, dibeberapa titik lokasi kawasan hutan lindung ada terjadi perombakan hutan oleh masyarakat, untuk dijadikan lahan perkebunan perluasan serta untuk pengolahan kayu. Dan hal ini telah berdampak pada terjadinya bencana, baik banjir maupun tanah longsor,” kata Tangkere.

Menurut keduanya akibat hantaman bencana tersebut, telah menyebabkan pemerintah dan masyarakat mengalami kerugian yang cukup besar dan diprediksi mencapai Rp 2 miliar. “Ada 5 desa yang terdampak bencana. Antara lain, Desa Tambelang, Liningaan Satu dan Dua, Kinaweruan serta Tumani. Dan kerugian ditimbulkan karena banyak ternak babi serta ikan yang hanyut terbawah arus banjir. Demikian juga karena derasnya terjangan arus, mengakibatkan 2 unit rumah milik keluarga Tiow-Liwe dan Keintjem-Mumu serta puluhan hektar lahan pertanian sawah dan ladang, menjadi rusak.” Jelas keduanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Franky Donny Wongkar SH yang turun langsung meninjau lokasi bencana, kembali mengingatkan kepada warga untuk tetap menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan. “Tidak ada satu orangpun yang tahu kapan bencana itu datang. Sebab itu saya minta tetaplah wasapada. Perhatikan kebersihan lingkungan terutama daearah aliran sungai (DAS). DAS jangan dijadikan tempat pembungan sampah, sehingga aliran air tetap berjalan lancar. Demikian juga kita harus tetap menjaga kelestarian hutan. Jangan menebang pohon sembarangan, agar air bisa diserap.

Wongkar menginstruksikan kepada jajaran Pemkab lebih khusus instansi terkait, untuk bertindak cepat dalam membantu masyarakat serta untuk pemulihan lokasi yang terkenah bencana. “Saya mewakili  Bupati Christiny Eugenia Paruntu SE datang meninjau lokasi bencana dengan membawa berbagai jenis bantuan untuk membantu warga yang tertimpah bencana. Tapi ini belumlah cukup, untuk itu saya minta kepada BPBD, Dinas Sosial, Dinas PUPR dan lain-lain, agar dapat memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan, termasuk pembenahan infrastruktur yang rusak, sehingga masyarakat bisa kembali beraktifitas normal. Dan juga saya minta kepada masyarakat untuk lebih waspada,” pesannya.

Sangat disayangkan, sebab sehari pasca bencana belum satupun anggota Dekab Minsel yang datang meninjau lokasi serta memberikan bantuan. Dan hal ini menimbulkan kekecewaan masyarakat. “Sebagai wakil rakyat, seharusnya mereka lebih peduli untuk memperhatikan nasib masyarakat. Sebab mereka bisa duduk sebagai anggota Dekab Minsel, karena dipilih oleh rakyat. Tapi nyatanya sampai sore hari ini (Kemarin,red) belum ada satupun anggota dewan yang datang mengunjungi lokasi bencana untuk mendengarkan keluhan masyarakat lebih khusus yang tertimpah bencana,” sorot sejumlah warga yang meminta namanya tidak dikorankan. (jem)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional