Menu

Cinta Terlarang Berakhir Tragis! Dimakamkan Tak Pakai Peti dan Enggan Didoakan

  Dibaca : 1944 kali
Cinta Terlarang Berakhir Tragis! Dimakamkan Tak Pakai Peti dan Enggan Didoakan

dua korban gantung diri.

IPM— Ditenggarai sudah dimabuk asmara dan kecewa lantaran cinta mereka tidak mendapat restu kedua orang tua, dua sejoli satu marga RK alias Rino (20) dan MK alias Meifa (13) yang tercatat sebagai warga Desa Koreng Kecamatan Tareran, Minahasa Selatan (Minsel), memutuskan mengakhiri hidup mereka secara bersama-sama dengan cara gantung diri di salah satu tower, Selasa (5/12).

Aksi nekat sepasang kekasih ini sontak membuat geger warga setempat. Berdasarkan informasi yang diperoleh wartawan harian ini dari warga sekitar, tindakan nekat Rino dan Meifa ini pertama kali diketahui oleh Vence Karwur yang tak lain adalah ayah korban Rino. Ceritanya bermula saat ia hendak ke kebun, namun secara tak sengaja melihat putranya bersama sang pujaan hati telah tergantung menggunakan tali nilon di tower Sutet  di belakang rumahnya.

“Kira-kira jam setengah delapan (pagi) terdengar ada suara orang yang berteriak meminta tolong, saat kami mencari sumber suara tersebut, kami kaget saat melihat Rino dan Meifa sudah tergantung ditiang tower dan dalam kondisi tidak bernyawa,” beber warga sembari menyebutkan, suara teriakkan tersebut merupakan suara Vence. Melihat hal itu, warga pun langsung mengevakuasi jasad dua sejoli ini dan selanjutnya dibawa ke rumah masing-masing.

Sumber juga membeberkan jika kedua korban sedang menjalin hubungan asmara namun karena sama marga alias ‘basudara’, sehingga hubungan keduanya ditentang keras orang tua kedua belah pihak. “Mungkin karena itulah sehingga keduanya nekat gantung diri,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolres Minsel AKBP Arya Perdana SH SIK MSi, saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa tragis tersebut. “Setelah menerima laporan, tim gabungan dari Sat Reskrim, Sat Intelkam Polres Minsel dan beberapa anggota Polsek Tareran, langsung bergerak untuk mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) dan melakukan proses identifikasi serta mengevakuasi jasad kedua korban,” sebut Kapolres melalui Kasat Intelkam Polres Minsel AKP Karel Tangay SH bersama Kapolsek Tareran IPTU Petrus Satu.

Berita Terkait :  Terima Personil PHBI Sulut, Ini Pesan Kapolda Waskito

Upaya pihak kepolisian untuk mendalami kasus dengan cara melakukana optopsi, mendapat penolakan pihak keluarga. “Pihak keluarga korban pasrah dan menerima kasus ini sebagai musibah, sehingga menolak untuk dilakukan otopsi,” tambahnya.

Di satu sisi, aksi nekat dua sejoli ini justru tidak mendapat simpati dari semua pihak. Buktinya dalam prosesi pemakaman, tidak dilaksanakan ibadah atau doa. Bahkan, jenazah pasangan ini tidak dimasukan ke dalam peti sebagaimana lazimnya, melainkan hanya dimasukkan bersama-sama ke dalam sebuah wadah berbentuk kotak yang dibuat warga dan tanpa penutup.

Selanjutnya keduanya dimakamkan dalam satu liang lahat. Akan hal ini, Hukum Tua Desa Koreng Josep Rumengan menyebutkan, sudah menjadi aturan atau kesepakatan bersama, dimana jika ada warga yang meninggal dunia karena bunuh diri, maka tidak dibenarkan untuk didoakan serta tidak boleh menggunakan peti saat akan dimakamkan. “Kematian menjadi keinginan mereka sendiri, jadi apa yang harus didoakan. Demikian juga sudah menjadi resiko mereka (korban,red) untuk dimakamkan dengan tidak menggunakan peti, karena sudah disepakati bersama oleh semua pihak baik Pemerintah, Gereja dan masyarakat,” terang Rumengan. (jem)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional