Menu

“Hanya Tuhan Menghakimi Orang Berdosa”, Dua Sejoli Minsel tak Didoakan Tuai Pro-Kontra Netizen

  Dibaca : 485 kali
“Hanya Tuhan Menghakimi Orang Berdosa”, Dua Sejoli Minsel tak Didoakan Tuai Pro-Kontra Netizen
dua korban gantung diri.

 

 

MANADO — Senin (5/12), masyarakat Sulut dihebohkan dengan kejadian gantung diri dua sejoli anak baru gede (ABG), tewas gantung diri bersamaan. Diduga kuat, dua korban satu marga yakni RK alias Rino (20) dan MK alias Meifa (13), warga Desa Koreng Kecamatan Tareran, Minahasa Selatan (Minsel), tidak direstui orang tua. Nah, karena cinta terlarang keduanya memutuskan mengakhiri hidup mereka secara bersama-sama dengan cara gantung diri di salah satu tower.

Menariknya, aksi nekat dua sejoli ini justru tidak mendapat simpati dari semua pihak. Buktinya dalam prosesi pemakaman, tidak dilaksanakan ibadah atau doa. Bahkan, jenazah pasangan ini tidak dimasukan ke dalam peti sebagaimana lazimnya. Melainkan hanya dimasukkan bersama-sama ke dalam sebuah wadah berbentuk kotak yang dibuat warga dan tanpa penutup. Selanjutnya keduanya dimakamkan dalam satu liang lahat.

Hukum Tua Desa Koreng Josep Rumengan menyebutkan, sudah menjadi aturan atau kesepakatan bersama, dimana jika ada warga yang meninggal dunia karena bunuh diri, maka tidak dibenarkan untuk didoakan serta tidak boleh menggunakan peti saat akan dimakamkan. “Kematian menjadi keinginan mereka sendiri, jadi apa yang harus didoakan. Demikian juga sudah menjadi resiko mereka (korban,red) untuk dimakamkan dengan tidak menggunakan peti, karena sudah disepakati bersama oleh semua pihak baik pemerintah, gereja dan masyarakat,” terang Rumengan.

Akan hal tak didoakannya kedua jenazah, ternyata menuai pro dan kontra para netizen dalam salah satu grup Facebook.

Contohnya yang diungkapkan akun Jezz Sondakh. “Cuma mo berDoa akang kwa susah so..? yg menghakimi mereka berdosa, bukan manusia tetapi Tuhan.”

Nah, komentar Jezz Sondakh ditanggapi balik akun Josh Posumah. “Bro Jezz,, nda ada dalam adat minahasa itu mo doakan org mati,,syukur ada kase maso di wadah,,yg sebenarnya mati bagini ika di mafafa kalapa kase putar kampung dapa kase malo kong dapa cambok itu mayat baru tambung,” kata Josh.

“Adat Minahasa dahulu dan sekarang sudah berbeda jauh penerapannya. Kalu dulu org mati bunuh diri, mayat tarek deng mafafa, serta somo acara penguburan ja se iko dari jendela bukang dari pintu. Sekarang dunia so lebe moderen, budaya tersebut sudah hilang, padahal sebenarnya budaya itu memberikan dampak positif buat org lain supaya tidak berlaku sama,” tulis Fan’lee Cezh.

 

 

“Intinya di sini samua teken pande deng pikir benar samua..

Bicara tentang isi Alkitab kurang sama deng Pdt samua,nyatanya samua so bku hina tanpa Ngoni tau drng dua yg Bking Dosa so taiko2 deng Ngoni ley so berdosa.. Mahluk ciptaan Tuhan yg paling sempurna ada manusia klu trng so bku hina apa Tuhan senang dp ciptaan kong di hina??? kalu orang kristen pasti tau arti KASIH.. Itu jo.. Maaf ini netral tida bermaksud menggurui.. Maaf.. Slm Damai di Hati,” demikian pendapat Jeini Lolaen Manopo.

“Bkn mo iko campur neh.. Mr yg drg blg itu butul. Tujuan org kristen mo bking ibadah penguburan dn ibadah di kubur itu tujuannya bkn pa jenazah tp untuk keluarga. Ibdah d buat itu cuma tradisi, tradisi pnguburan sblm d kbur bkn mo brdoa itu jenazah. Klo mo tarik ulang dr awal nd ada sbnrnya ibadah pemakaman tp s jdi trdisi sllu ada ibdah pemakaman. Jd bkg itu jenazah yg mo d doakan,” kata Mega Christi Soeparman.

Hal menarik juga dikatakan Beiby Fresie Amanda. “Perbedaan pendapat para nitizen (setuju ataupun tidak setuju) atas perlakukan masyarakat Desa Koreng yang didukung juga oleh Hukum Tuanya, dalam ibadah pemakaman kedua kekasih tsb, menurut Saya adalah sangat wajar. Hal tersebut karena ada dua kelompok usia dari para nitizen yang memberikan komentar. Yang usianya diatas 47 Tahun, pasti sebagian besar akan memberikan komentar setuju karena pasti masih melekat diingatan mereka bahkan mungkin pernah menyaksikan secara langsung penerapan aturan adat yg keras tentang meninggal dunia dengan cara bunuh diri yang diterapkan oleh pemerintah sebagai ketua adat di desa masing masing.

Namun yang usianya dibawah 47 Tahun, pasti sebagian besar akan mengatakan tidak setuju karena mereka tidak sempat mengetahui tentang adat seperti itu apalagi menyaksikan secara langsung penerapan adat yg keras seperti itu.

Dengan tidak ada maksud untuk pro dan kontra, Saya sebagai warga asli desa koreng dan sekalipun usia Saya masih 26 Tahun namun Saya sebelum memberikan komentar maka Saya bertanya dulu kepada orang tua Saya apa memang demikian kah penerapan adatnya? Dan setelah mendengar penjelasan orang tua Saya maka Sayapun baru paham bahwa maksud dan tujuannya penerapan adat yg keras seperti itu adalah untuk menghindari kejadian yg sama dikemudian hari (efek jera) dan dalam ajaran kristenpun jelas ditentang mengenai bunuh diri (putus asa/ khawatir). Satu hal yang Saya sayangkan, orang tua dari masing masing korban terlalu keras dalam memberikan aturan tentang pertalian kasih yang masih punya hubungan darah bagi kedua anak mereka. Disementara mereka mungkin lupa, bahwa anak mereka hanya tinggal mencontohi pendahulu pendahulu mereka…. Karena setau Saya dari orang tua Saya, sudah banyak yang duluan melakukan hubungan pertalian kekasih bahkan sampai menikah dan sampai sekarang masih akur akur padahal masih punya hubungan sedara (anak bersaudara, cucu bersaudara) kalau ngak salah ingat ada sekitar 10 pasangan suami istri yg masih punya hubungan sedara. Bagi penduduk Desa Koreng pasti tau siapa siapa mereka… Jadi silahkan Kita renungkan makna dibalik peristiwa ini… dan silahkan kita menilai sendiri siapa yg salah dari peristiwa ini,” tulisnya.

“Nanti klu bisa coba di rapatkan atau di sosialisasikan kpda masyarakat,apalgi anak2 muda knpa secara turun temurun dilarang keras untuk mnjalin hubungan dgn hubungan yg masih sedarah.mngkin itu yg skrg banyak anak2 muda yg tdk tau.semoga ini mnjadi pembelajaran saja,” komen Andreas Dolok Maraja Damanik. (zly)

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional