Menu

Cerita Widy Mopeng: Politisi Muda Wakili Indonesia di Simulasi Sidang PBB

  Dibaca : 192 kali
Cerita Widy Mopeng: Politisi Muda Wakili Indonesia di Simulasi Sidang PBB
Dwidyawati Esther Mopeng

NEW YORK — Politisi muda asal Sulut, Dwidyawati Esther Mopeng berhasil menembus kancah konferensi internasional. Tak tanggung-tanggung kancah yang ditembusnya adalah sidang di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations Headquaters, di New York, Amerika Serikat.
Meski sidangnya masih dalam tataran simulasi, tapi dalam iven Future We Want Model United Nations (FWWMUN) untuk Simulasi Sidang PBB, 8-11 Maret 2018, itu diikuti lebih dari 2.000 orang delegasi dari 130 negara di dunia. Dalam acara yang diorganisir oleh Italian Diplomatic Academy (IDA) dan World Federation of Model United Nations Associations (WFMUNA), Indonesia mengirimkan 15 delegasi, termasuk Widy—sapaan akrab cewek cantik yang juga Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Minahasa Utara ini.
Menurut Widy, setiap delegasi dibagi perkomite dan merupakan representatif dari beberapa negara. Seperti, General Assembly Legal Committee, The Commission On Crime Prevention And Criminal Justice, United Nations Security Council, Special Political And Decolonization Committee, Commission On The Status Of Women, Disarmament And International Security, Economic And Financial Committee, Social, Humanitarian, And Cultural Committee, World Health Assembly, Economic And Social Council, United Nations Environment Assembly. Di dalam komite inilah setiap delegasi dapat menjelaskan posisi dari negara yang mereka wakili terkait dengan isu yang dibahas.
“Saya sendiri delegasi Indonesia representatif dari Ukraina, membahas tentang General Assembly Legal Committee dengan membahas topik pertama Criminal Accountability of United Nations Officials and Experts on Mission. Dan topik ke dua Consideration of Prevention of Transboundary Harm from Hazardous Activities and Allocation of Loss in the Case of Such Harm,” kata Keke asal Sawangan, Minut ini.
Dalam Simulasi sidang ini, katanya, mereka bukan hanya diajarkan tahu permasalahan negara sendiri namun juga mempelajari permasalahan negara lain.
“Simulasi Sidang ini merupakan wadah bagi generasi penerus yang memiliki ketertarikan di bidang negosiasi dan diplomasi dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi atau pernah terjadi,” ungkap cewek kelahiran 2 Mei 1995.
Putri ke-2 pasangan Alexander Mopeng dan Jeane Ticoalu itu mengungkapkan, keseruan simulasi Sidang Umum PBB ini dirasakan sejak menjalani proses seleksi, di mana delegasi diharuskan menuliskan sebuah essay dan CV.
“Saya membuat essay mengenai motivasi ikut serta, tujuan, target, dan pandangan umum tentang topik utama konferensi. Juga mengumpulkan CV khususnya prestasi dan pengalaman MUN sebelumnya juga pengalaman konferensi Internasional lainnya) dan dalam beberapa kategori ada wawancara lanjutan,” kata mahasiswi Magister Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta dan Magister Ilmu Administrasi Publik Universitas Indonesia itu.
“Sebelum mengikuti konferensi, saya melakukan persiapan selama kurang lebih 3 bulan dengan melakukan riset dan pemahaman topik sesuai pembahasan yang telah didapat dari penyelanggara kemudian membuat position paper,” tambah alumni SMA Kr. Eben Haezar Manado ini.
Dalam pembahasan selama konferensi berlangsung, katanya, mereka membuat kelompok agar resolusi yang kami buat berhasil dan dapat menjadi rujukan kebijakan untuk Komite Hukum Majelis Umum PBB. Simulasi ini sangat menantang karena para delegasi harus mengadu kemampuan komunikasi, kepemimpinan dan pemecahan masalah dengan ratusan perwakilan dari delegasi negara lain. Dalam resolusi akhir yang diajukan, disetujui oleh perwakilan delegasi dari 53 Negara yang berarti resolusi mereka diterima atau dinyakatakan berhasil.
“Saya sangat senang, karena kekuatan negosiasi dapat menunjukkan bahwa dengan kekuatan dialog dan diplomasi kita bisa mencapai sebuah kesepakatan,” kata alumni Fisipol Unsrat Manado ini.
Resolusi yang menjadi rujukan mereka adalah menghukum pejabat yang melakukan kejahatan dalam misi perdamaian. “Beberapa proposal kami, seperti memberdayakan pengadilan pidana yang ada di bawah organisasi PBB untuk melanjutkan kasus-kasus baru dan lama, memperbaiki program pelatihan dan pendidikan yang saat ini ditawarkan oleh Austria, penggunaan media digital untuk akses informasi yang lebih baik,” katanya.
Kelompoknya memiliki kelompok yang kompetitif yaitu Meksiko serta negara-negara pendukung lainnya, namun kelompok itu bukanlah pesaing mereka karena mempertahankan resolusi terbaik menurut kelompok tersebut.
“Kami menunjukkan bahwa Meksiko adalah negara yang kompetitif secara Internasional dan siap untuk berkontribusi menjawab tantangan masa depan,” ujar penyuka solo traveler ini dan sudah menjelajah 24 provinsi di Indonesia seorang diri tersebut.
Harapan dalam mengikuti kegiatan ini, katanya, Simulasi Sidang PBB ini meningkatkan rasa tanggung jawab menjaga perdamaian dunia dan menjaga keharmonisan hubungan masyarakat. “Selain itu juga dapat menginspirasi anak-anak muda Indonesia untuk membawa harum nama negara dalam kompetisi apapun dan siap bersaing,” ungkapnya, bangga. Sukses terus, Wid…(bahtin)

Baca Juga:  Saksi Kasus Korupsi, Sekkot Tomohon Ikut Bayar Pengacara Terpidana
Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional