Menu

GMIM Via Dolorosa Kairagi II Jadi Pilot Project PAH di Sulut

  Dibaca : 65 kali
GMIM Via Dolorosa Kairagi II Jadi Pilot Project PAH di Sulut
Pemanen air hujan pertam di Sulut yang diuji coba di GMIM Via Dolorosa Kairagi Manado

MANADO — Memanen air hujan adalah salah satu langkah kecil dan sederhana untuk menyelamatkan air. Di Sulut alat pemanen air hujan (PAH) pun sudah ada, yang pilot project-nya dibuat di GMIM Via Dolorosa, Kairagi II Politeknik Manado. Selasa (21/3) kemarin, alat PAH yang diinisiasi Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) 1, itu dikenalkan kepada sejumlah mitra BWSS yang berkaitan dengan program penyelamatan air.
“Ini hanya contoh, dan bisa diterapkan di gedung-gedung perkantoran, tempat ibadah maupun asrama. Kami mencoba programkan akan dibuat di pesantren atau masjid sebagai penyedia air untuk wudhu atau kebutuhan lain,” kata Kepala BWSS 1 Djidon Watania, inisiator PAH di GMIM Via Dolorosa Kairagi II.
Menurut Djidon, alat ini berteknologi sederhana karena hanya tendon atau tanki air dari fiber atau stainless steel, dan dihubungkan dengan pipa-pipa. “Teknologinya murah dan sederhana, tapi manfaatnya sangat besar untuk penyelamatan lingkungan, khususnya air. Ke depan kita usahakan airnya sudah bias langsung diminum. Alatnya sudah ada,” ujar Djidon.
Sementara Victor Sidabutar dari Sekretariat Pokja Antar-Kementerian Gerakan Nasional Kemitraan Penelamatan Air (GN-KPA) saat peresmian PAH di GMIM Via Dolorosa, yang merupakan rangkaian agenda peringatan Hari Air Dunia XXVI mengapresiasi pembuatan PAH ini, apalagi di tempat ibadah.
“Ini menjadi berkat yang sangat besar bagi jemaat, karena upaya penyelamatan air sebagai anugerah dari Tuhan dimulai dari gereja,” kata Pak Tua—sapaannya.
Sidabutar juga memberi apresiasi kepada orang Manado. Karena inisiasi alat PAH diaplikasikan di lingkungan kantor itu keluar dari orang Manado, yakni Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung (Cimancis) di Cirebon, Ir Bob Lombogia, yang juga mantan Kepala BWSS I Sulut.
“Di Balai Besar Cimancis itu PAH diaplikasikan di masjid untuk air wudhu, tanaman hidroponik, dan kebutuhan air sehari-hari,” katanya. “Ternyata juga fasilitas yang sama dengan kapasitas besar dibuat di salah satu pesantren di Cirebon. Dan, upaya itu dilakukan oleh Balai Cimancis karena prihatin dengan kondisi pesantren yang santrinya ada ribuan tapi airnya kecil,” ungkap Pak Tua.
Dia pun berharap apa yang telah dimulai di GMIM Via Dolorosa Kairagi II ini akan terus berlanjut ke gedung-gedung lain, bahkan pemukiman warga di Sulut. “Di Indonesia, baru ada dua PAH yang diaplikasikan di gedung. Ya, di Cirebon dan di Manado ini. Semoga BWSS 1 akan jadi pelopor untuk penyelamatan air lewat pembuatan PAH,” kata Sidabutar.
Sementara Wakil Ketua BPMJ GMIM Via Dolorosa Kairagi II Pnt. Calvin Sasela mengucapkan terima kasih atas nama jemaat atas dibuatnya alat pemanen air hujan ini di gedung gereja. “Menjadi kebanggaan kami jemaat di sini atas dipilihnya GMIM Via Dolorosa untuk pilot project alat pemanen air hujan di Sulut,” kata Sasela.
Hadir dalam kegiatan itu Kasatker PJSA BWSS 1 Ir. Sartono, para pejabat sturuktural BWSS 1, sejumlah PPK, pewakilan masyarakat Kairagi II, perwakilan Dinas ESDM Sulut, Dinas LH Sulut, Dinas PUPR Sulut, Biro Ekonomi dan SDA Sulut, dan mitra BWSS lainnya.(baz)

Berita Terkait :  Ilat Gantikan Ibnu di SNVT Bendungan Sulut
Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional