Menu

Fence: Proyek Sollar Cell Tak Ada Petunjuk

  Dibaca : 101 kali
Fence: Proyek Sollar Cell Tak Ada Petunjuk
DIPERIKSA: Terdakwa Fence saat menunjukkan bukti kepada Majelis Hakim di Pengadilan Tipikor Manado, kemarin.

MANADO — Sidang dugaan korupsi penerangan lampu jalan (PJU) sistem sollar cell Kota Manado, mengagendakan pemeriksaan terdakwa FS alias Fence, Senin (9/4/18), kemarin. Dalam sidang di Pengadilan Tipikor Manado itu, Fence menjelaskan, terdapat 12 perusahaan mengajukan penawaran dalam lelang proyek tersebut. “Setelah proses hanya satu yang berhasil yakni PT Subota Internasional,” ujarnya yang saat itu menjabat Ketua Unit Layanan Pengadaan (ULP).
Menurut Fence, ada empat perusahaan yang melakukan sanggahan dari hasil tender. “Jadi pada prinsipnya mereka melakukan sanggahan pada proses evaluasi, karena mereka keberatan perusahaannya gugur,” jelasnya.
Kemudian, Fence ditanyai tentang adanya petunjuk dalam menuntutkan pemenang tender, namun disangkalnya. “Tidak ada petunjuk. Saya mempertanggungjawabkan,” jawab Fence atas pertanyaan hakim.
Sidang dipimpin Majelis Hakim dan akan dilanjutkan ke pada pekan depan.
Terinformasi, keterlibatan FS dalam kasus ini, terungkap pertama kali saat proses sidang terdakwa Paulus Iwo, Hendrik Wowor, Lucky Dandel dan Aryanti Marola yang telah divonis bersalah di PN Manado.
Sebagaimana yang terungkap di persidangan beberapa waktu lalu, bahwa saat proyek solar cell dilangsungkan, Fence berperan sebagai Ketua ULP. Sementara, Paulus Iwo kemudian mendapat informasi tentang proyek ini dari Paul Nelwan. Tak mau kehilangan kesempatan ini, Iwo bersama Ariyanti kemudian meminjam PT Subota, untuk memenangkan tender. Proses tender belum dimulai, Iwo dan Ariyanti malah sudah bertandang ke Manado untuk menawarkan brosur solar cell kepada BJM. Pertemuan itu berlangsung di sebuah hotel dan turut dihadiri oleh Lucky, Robert dan FS.
Saat tender dimenangkan, ternyata proyek dikerjakan tidak sesuai kontrak. Iwo, diduga kuat telah mengubah spesifikasi baterai yang dalam kontrak harusnya menggunakan baterai 12120 Ah merk Best Solution Batery (BSB), dirubah menjadi baterai Bulls Power atau BSBp 120 (SNI). Akibatnya, baterai hanya mampu bertahan tiga sampai enam jam, yang semestinya menyala 10 jam per hari. Hal itu membuat negara mengalami kerugian yang menurut perhitungan BPKP Sulut hingga Rp3 miliar.
Oleh JPU, calon terdakwa FS dijerat dalam pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 dan pasal 3 UU Tipikor no 31 tahun 1999 tentang tipikor sebagaimnana telah diubah dan ditambah dengan UU no 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU no 31 tahun 1999 tentang tipikor jo pasal 55 ayat (1) ke-1 Kuhp. (air/zly)

Berita Terkait :  Polda Sulut Siaga 6 Negara Seriusi Teroris
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional