Menu

Tertimbun Longsor, 6 Penambang Tewas di Pertambangan Bakan Bolmong

  Dibaca : 38 kali
Tertimbun Longsor, 6 Penambang Tewas di Pertambangan Bakan Bolmong
Pencarian korban tertimbun longsor.

IPM — Pertambangan di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong memakan korban. Minggu (3/6/18), sebanyak enam penambang yang sementara beraktivitas di dalam lubang tambang tewas tertimbun longsor. Informasi yang dirangkum Indo Post, hujan deras yang terjadi sejak Jumat (1/6) hingga Minggu (3/6/18), membuat material tanah di lokasi pertambangan ilegal tersebut menjadi rapuh. Ironisnya, para penambang yang mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga, nekat mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan uang dari hasil tambang tersebut. Naas, sore kemarin, peristiwa yang tidak diinginkan terjadi, sebanyak enam penambang meregang nyawa akibat tertimbun longsor. “Keenam orang tersebut sedang berada di dalam lubang tambang untuk mengambil material,” ungkap Husuna M, warga Desa Bakan yang berada di lokasi kejadian.

Dari data yang diperoleh keenam korban tersebut adalah Adi Mokodompit, Molan Mamonto (55), Wiro Ketangrejo (26), Dodo Mamonto (45), Dudi Lenda (45) dan Rian Mamonto (28). Menurut Husana, kejadian itu begitu cepat terjadi, tiba-tiba terdengar gemuruh tanah yang jatuh dan menutup galian lubang lokasi pertambangan. “Mereka sedang beraktivitas seperti biasanya di dalam lubang. Tiba-tiba saya dengar seperti suara gemuruh. Saat dilihat ternyata lubang yang dimasuki ke enam penambang sudah ambruk. Memang saat itu juga lagi hujan,” ungkap salah satu penambang ini.

Setelah melihat kejadian tersebut sontak dirinya langsung memanggil warga untuk membantu mencari korban. “Setelah berusaha mencari, sekitar pukul 17.00 Wita satu di antara korban berhasil ditemukan. Korban atas nama Wiro ditemukan pukul 17.00 Wita dan 2 korban lainnya ditemukan pukul 19.00 Wita,” bebernya kepada para wartawan.

Sementara itu, Wakil Kapolres Bolmong Kompol Suharman Sanusi, saat dikonfirmasi para wartawan mengungkapkan dari peristiwa longsor yang terjadi jumlah korban tewas yang tertimbun longsor berjumlah enam orang.  “Enam yang tewas tertimbun,” ujar Suharman.

Berita Terkait :  Mantiri Buka Bersama Dengan Para Imam Masjid se-Kota Bitung

Ia mengungkapkan, hingga kemarin, proses pencarian sedang dilakukan. Di mana sudah tiga korban yang berhasil dievakuasi namun ketiganya sudah meninggal. “Mereka adalah Wiro (26) Dodo (45) dan Adi. Sulitnya medan membuat proses evakuasi berjalan lambat. Sebab kondisi tanah sangat labil dan mudah longsor sehingga dilakukan secara manual,” jelasnya. “Sisa tiga orang yang masih akan dievakuasi lagi. Mereka adalah Rian (28) Molan (55), dan Dudi (45),” tambahnya.

Saat berita ini diturunkan tim gabungan yang terdiri dari TNI-Polri dan BPBD serta masyarakat masih sementara melakukan pencarian korban. Kabid Penanggulangan bencana dari BPBD Bolmong Ingli Paputungan menjelaskan, proses evakuasi hingga malam masih dilakukan. Namun tim ekstra hati-hati karena kondisi tanah yang rawan longsor. “Kita lakukan evakuasi sangat hati-hati mengingat kondisi tanah rawan terjadi longsor susulan,” katanya.

Diketahui, peristiwa terjadinya tanah longsor bukan baru pertama kali terjadi di lokasi tambang. Beberapa waktu lalu, para pekerja tambang yang bekerja disejumlah bos tambang juga mengalami hal yang sama. Meski selamat, namun kondisi mereka harus mendapat perawatan di rumah sakit karena alami luka parah. “Kejadian ini sudah berulang kali terjadi namun belum ditertibkan oleh pihak berwenang. Kami berharap kepada instansi terkait untuk melakukan penertiban pertambangan ilegal agar tidak menimbulkan lagi korban jiwa,” tandas Yakin Paputungan, tokoh Pemuda Bolmong.

Sementara itu, dengan kejadian ini salah satu keluarga korban yakni Wiro Ketangrejo merasa belum yakni terhadap peristiwa ini. Stefly Kerangrejo saat dihubungi wartawan koran ini, mengungkapkan saat ini keluarga masih menunggu kepastian tentang peristiwa tersebut. Namun meski demikian ia merasa sangat kehilangan atas tewasnya saudara dekatnya. “Tentunya kami sangat berduka dengan peristiwa ini,” ungkapnya.

Berita Terkait :  Bupati Minut dan Anaknya Didemo Terkait Kasus Pemecah Ombak-Sabung Ayam

Ia menceritakan Wiro merupakan sosok pekerja keras, apalagi diusia muda ia sudah mencari nafkah sendiri karena perpisahan orang tuanya. Saat ini, Wiro sudah berkeluarga dan meninggalkan istri dan seorang anak. “Wiro merupakan sosok yang baik hati dan suka menolong orang,” kunci Stefly. (jly)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional