Menu

Resi Gudang Solusi Anjloknya Harga Kopra

  Dibaca : 53 kali
Resi Gudang Solusi Anjloknya Harga Kopra
Gubernur Olly Dondokambey (kaos merah) mengolah kelapa menjadi kopra bersama petani.(foto: istimewa)

MANADO — Harga kopra yang anjlok hingga ke level Rp5.000 per kilogram dari biasanya Rp10.000, membuat petani malas mengolah kelapa menjadi kopra. Tidak sedikit petani atau pemilik pohon kelapa memilih membiarkan buah kelapanya jatuh sendiri, dan tidak dipungut.
“Untuk apa diolah kalau ongkos panjat saja sudah 6.000 per pohon. Belum ongkos kumpul, angkutan, mengolah sampai jadi kopra. Sedangkan satu pohon paling banyak menghasilkan 20 biji. Bukan hanya pulang modal, tapi rugi,” ujar Jorry, pemilik kelapa di Minut.
Jorry, dan seluruh petani kelapa di Sulut berharap agar pemerintah provinsi mengupayakan agar harga kopra boleh dikatrol hingga lebih tinggi dari harga saat ini. Sebab, pengeluaran opeerasional lebih besar dibandingkan dengan harga jual yang paling tinggi Rp5.800 per kilogram.
Namun, Gubernur Olly Dondokambey mengaku pemerintah sangat berkeinginan untuk mengintervensi tata niaga kopra, tapi sayang harga komoditas kelapa ini dipengaruhi oleh pasar global.
“Pemerintah tak bisa mengintervensi harga kopra. Cuma kalau bisa, kami sangat mau mengintervensi karena saya dan banyak pejabat punya kebun kelapa yang juga diolah jadi kopra,” katanya. “Biasanya setiap kali panen saya dapat 200 juta, tapi sekarang turun jauh,” tambah Olly, beberapa waktu lalu.
Olly mengungkapkan, pemerintah sedang menyiapkan langkah untuk menaikkan pendapatan petani. Di antaranya mempersiapkan alat-alat untuk memproduksi kopra agar langsung menjadi minyak kelapa.
“Kita berupaya agar turunan kelapa ini bisa dibuat bermacam-macam produk, menjadi produk unggulan kelapa yang bernilai ekonomis,” jelas Olly.
Sementara Kadis Perindag Sulut Jenny Karouw melalui Kabid Perdagangan Dalam Negeri Hanny Wajong menjelaskan pemerintah memang sulit mengatur atau mengintervensi harga kopra. Penyebabnya karena harga minyak goreng diatur oleh pasar dunia. Sedangkan kopra hanya merupakan komoditas substitusi sebagai bahan baku minyak goreng.
“Kopra kan jadi bahan baku minyak goreng, sementara di dunia ini ada minyak goreng sawit, kedelai, jagung, dan lainnya. Nah, di luar negeri minyak kedelai dan jagung itu diproduksi dari tanaman yang jumlahnya ratusan sampai ribuan hektare satu bidang lahan. Belum lagi kelapa sawit,” ujarnya.
Begitu produksi kelapa di sejumlah negara di seperti Brasil, Meksiko, India, Malaysia, Vietnam, Papua Nugini, dan lain-lain, sedang tinggi karena berada di masa panen. “Yang pasti kalau negara-negara itu panen, otomatis harga dunia turun. Belum lagi pengaruh produksi minyak sawit,” tambah Wajong.
Katanya juga, petani dan pemerintah perlu menjaga keberlanjutan pembelian kopra oleh perusahaan pabrik minyak goreng di Sulut, seperti Bitung dan Amurang. “Yang harus dipastikan bahwa kopra petani Sulut tetap akan diambil oleh pabrik-pabrik di Bitung seperti Multi Nabati Sulawesi atau Bimoli,” katanya.
Kelapa di Sulut juga harganya sulit untuk naik karena produk turunannya belum maksimal diproduksi menjadi berharga jual tinggi. Seperti sabut kelapa, batok, kayu kelapa, hingga air kelapa untuk nata de coco.
“Sangat mengherankan karena nata de coco yang dijual di sini justru ada yang dari China. Banyak air kelapa ternyata yang hanya terbuang percuma,” ujar Majong.
Dia pun memberi solusi, seperti yang sudah beberapa kali dibicarakan di tingkat pimpinan serta pelaku usaha dan ahli perkelapaan. Yakni, resi gudang.
“Dengan resi gudang sudah pasti harga kopra akan terjaga karena akan dikeluarkan di saat bukan panen raya di negara-negara lain penghasil kelapa,” ujarnya.
Dengan resi gudang pun, kata Wajong, petani tidak perlu buru-buru menjual kopranya jika harga sedang jatuh. Karena, bank akan memberi pinjaman dengan bunga rendah, 6 persen per tahun, untuk petani yang kopranya disimpan di gudang.
“Jaminannya, ya, kopra yang di gudang itu. Dan, bank pasti mau memberi pinjaman karena ada jaminan kopra di gudang. Nanti, bila harga sudah bagus dan menguntungkan barulah dilepas ke pasar. Dan selanjutnya mengembalikan pinjaman ke bank, dengan kondisi harga kopra yang tinggi,” ujar Wajong.(baz)

Baca Juga:  Ibadah Natal JIPS Sarat Makna Kebersamaan
Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional