Menu

CNR Laporkan Kapolsek Tombulu ke Polda

  Dibaca : 83 kali
CNR Laporkan Kapolsek Tombulu ke Polda
Careig Naichel Runtu
  • Dugaan Pencemaran Nama Baik

IPM – Kapolsek Tombulu Hadi Siswanto dilaporkan Ketua Partai Golkar Minahasa, Careig Naichel Runtu (CNR) ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sulut, sekira pukul 14.00 Wita, Rabu (5/9/18). Laporan itu terkait dugaan pencemaran nama baik Hadi terhadap CNR, yang tertuang dalam Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomor: STTLP/733a/IX/2018/SPKT mengetahui Kepala SPKT Kompol Anthony Wenno.

Menurut CNR, awalnya tidak mengetahui kalau dirinya telah dilaporkan Hadi ke Polresta Manado pada 15 Agustus lalu. Yakni terkait pengrusakan kendaraan milik Hadi. Nanti diketahui setelah tanggal 25 Agustus 2018, mendapat surat panggilan dari Satuan Reskrim Polresta Manado nomor B/3597/VIII/2018/Reskrim.

“Waktu saya sebagai warga negara datang ke Polresta sesuai undangan penyidik. Pas gelar perkara (pengrusakan kendaraan), saya tanya ke penyidik apa sebab saya diundang? Dan saat itu, penyidik menunjukkan kepada saya soal laporan polisi (milik Hadi). Di situ sangat jelas ditulis kalau saya (sebagai terlapor) melakukan pengrusakan kendaraan milik kapolsek di Citraland dengan cara mengambil batu dan memecahkan kaca mobilnya. Padahal itu tidak ada bukti yang kuat,” tuturnya.

“Saya dituduh dan difitnah telah melakukan pengrusakan mobil (milik Hadi). Untuk itu, saya membuat laporan polisi merasa dirugikan nama baik dan harga diri saya sebagai warga negara,” imbuhnya.

Mantan Calon Wakil Bupati Minahasa ini menambahkan, kronologisnya berawal saat acara ibadah kolom 2, Jemaat GMIM Yesus Memberkati Citraland, di rumah milik keluarga Maikel Rasuh, tanggal 7 Agustus. Saat itu, ibadah dimulai sekira pukul 09.00 Wita. Kemudian, selesai pukul 10.00 Wita dan dilanjutkan dengan acara makan bersama dengan bernyanyi memakai keyboard.

Baca Juga:  Novanto Teken SK Pencalonan, IvanSa-CNR Siap Tempur

“Pas waktu itu, saya sebagai Pnt PKB GMIM Yesus Memberkati mendatangi juga acara di kompleks sebelah. Setelah kembali ke lokasi ibadah kolom 2, tiba-tiba ada lima anggota Polsek Tombulu datang di lokasi acara. Kata (personil Polsek), mereka disuruh Kapolsek untuk memberhentikan acara tersebut karena katanya sudah menggangu. Padahal kan sesuai ketentuan, acara bisa berlangsung sampai pukul 24.00 Wita. Dan ini masih dari bagian dalam acara syukur ibadah kolom yang disuruh untuk diberhentikan,” jelasnya.

“Sebenarnya kan dia (Kapolsek) sebagai anggota kepolisian yang mengayomi masyarakat bisa berbaur dengan masyarakay lewat acara di tetangga. Tapi, sebaliknya saya melihat dia menunjukkan sikap arogansi sebagai anggota kepolisian, dengan menyuruh anggota untuk memberhentikan acara tersebut. Padahal juga tidak ada kekecauan yang terjadi saat acara. Semua aman-aman saja,” sambungnya.

CNR pula berharap, Polda Sulut bisa memproses laporannya sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku.

“Saya berharap pak Kapolda dan jajarannya bisa menindaklanjuti laporan ini. Karena saya tidak mau nama baik saya dirusak. Apalagi saya merasa tidak berbuat kesalahan,” harapnya.

Sementara itu, Maikel Rasuh membenarkan kalau acara ibadah kolom di rumahnya, mendapatkan komplain saat baru akan makan-makan dalam rangka syukuran.

Baca Juga:  GSVL Sabet Penghargaan Bakti Koperasi 2017

“Saya diberitahu security sekitar jam 10 malam. Katanya ada komplain dari Kapolsek karena ribut dengan sound system. Saat itu juga kami kecilkan volumennya. Karena setahu saya juga aturan untuk keramaian samapai jam 12 malam. Tapi ini sudah disuruh dihentikan. Kan aneh ya. Kita juga tidak ada keributan saat acara. Dan, pak Kapolsek juga sebagai tetangga, saya undang untuk hadir. Tapi waktu itu tidak tahu sebagai kapolsek, tapi kami mengundangnya sebagai warga komplek untuk hadir. Karena kami ingin saling kenal satu dengan lainnya,” aku Rasuh.

Terpisah, Hendry Sumigar sebagai warga Minahasa, menyayangkan sikap Kapolsek Tombulu tersebut. Katanya, mestinya memang sebagai kapolsek bisa menunjukkan sikap berbaur dengan masyarakat. Dan bisa memahami kondisi wilayah dan adat istiadat di tengah masyarakat.

“Kan di sini (Minahasa) kita sudah tahu, kalau selesai ibadah biasanya ada acara makan-makan. Kemudian, kalau keluarga ada kelebihan biasanya memakai sound system. Ya, sepanjang tidak ada kekacauan mestinya kan tidak masalah. Kemudian tidak juga melewati batas ketentuan. Berarti, kepemimpinan kapolsek patut dipertanyakan karena rupanya tidak mau berbaur dengan warga sekitar,” ucapnya.

Terpisah, Kapolsek Tombulu Hadi Siswanto dimintai tanggapannya soal laporan CNR terkait dugaan pencemaran nama baik, dirinya hanya menjawab singkat. “Kurang 86 bang,” tulisnya dalam pesan singkat Whatsapp. (ndy/zly)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional