Menu

Warga Wori 46 Hari di Laut Tembus Jepang Pakai Rakit

  Dibaca : 101 kali
Warga Wori 46 Hari di Laut Tembus Jepang Pakai Rakit
Aldi bersama rakitnya berada di tengah samudra.
  • Aldi Rela Makan Ikan Mentah untuk Bertahan Hidup 

 

Kedua orangtua Aldi didampingi Hukum Tua Desa Lansa V. David saat ditemui wartawan ini di rumahnya.

MINUT— Masyarakat Desa Lansa, Jaga Satu, Kecamatan Wori sempat dihebohkan dengan hilangnya Aldi Novel Adilang (18). Saat itu, Aldi bekerja sebagai nelayan dan diberitakan hilang di perairan Ternate. Nah, kini Aldi telah berkumpul bersama keluarga setelah 46 hari berada di tengah samudra untuk bertahan hidup dan ditemukan di Jepang. Begini kisahnya.

Sesuai pengakuan Aldi kepada orangtuanya, Alfian Adilang didampingi istri Net Kahiki, rakit yang dinaiki Aldi sudah dua kali putus. Yang pertama Aldi masih bisa ditemukan dan yang kedua Aldi hanyut sampai ke Jepang.

“Ini kejadian miris sekali dalam kehidupan keluarga kami. Kami tidak akan pernah lagi mengizinkan Aldi pergi kerja jaga rakit. Boleh melaut asalkan bersama-sama teman-temanya di kapal dan tidak sendirian di rakit,” ujar Alfian, ayah empat orang anak ini, Senin (24/9/18).

Dirinya mengetahui Aldi hilang sejak 14 Juli karena tali yang dikaitkan di rakit putus. “Aldi pergi melaut karena kebutuhan ekonomi selain membantu kami bertepatan juga pada waktu itu istri saya lagi di rumah sakit, pada saat mendapat kabar Aldi hilang istri saya lebih drop karena memikirkan Aldi,” ujarnya.

Dari pengakuan Aldi kepada ibunya Net, selama 46 hari terobang ambing, anaknya bertahan hidup memakan hasil tangkapan ikan. Namun karena suplai tinggal sedikit ia bahkan memakan ikan mentah untuk bisa dapat energi.

“Ia memotong kayu yang berada di rakit lalu memasak tetapi itu tak berlangsung lama. Sehingga memakan ikan mentah, suatu ketika entah hari keberapa katanya ia sudah lemas dan kekurangan suplai air,” katanya yang juga menambahkan Aldi menekuni profesi pencari ikan ini dari dua tahun lalu sejak umur 16 tahun.

Baca Juga:  Kasus Pemecah Ombak Likupang Minut Seret Kontraktor

Lanjut ibunya, di tengah laut Aldi kehabisan stok air minum. Kemudian, Aldi harus meminum air setelah bajunya dicelupkan ke laut.

“Tujuannya supaya air yang diminum rasa asinnya berkurang. Dan saat itu, Aldi mendapatkan bisikan atau pendengaran berupa buat tempat penampungan dari bulu karena akan hujan. Setelah Aldi selesai buat, keesokan harinya itu memang benar turun hujan. Dan dirinya sangat bersyukur ada air yang bisa diminum,” ungkapnya.

Pada waktu Aldi hilang, pihak keluarga sangat takut dan pasrah. Karena katanya, sekeluarga telah berpikir bahwa Aldi telah meninggal di laut.

“Namun kami keluarga besar tetap selalu berdoa selaku orang percaya. Ya, Aldi bertahan sampai saat ini karena berkat kemurahan Tuhan. Setiap hari ia berdoa dan baca Firman Tuhan karena di dalam rakit ada Alkitab. Saat itu, memang Aldi mengalami kejadian aneh pada waktu sebelum ditolong nelayan lain. Ia melihat ada ikan besar sedang menuntunnya mengikuti arus namun ikan tersebut hanya memiliki setengah badan,” jelasnya.

Selain melihat ikan setengah badan, Aldi juga melihat ikan-ikan besar dekat dengan rakit tetapi tak sedekat ikan setengah badan tersebut yang menuntunnya mengikuti arus.

“Dan akhirnya Aldi bisa diselamatkan nelayan dari negara lain. Puji Tuhan sudah bersama kami keluarga. Waktu pertama dapat informasi Aldi diketemukan, pihak keluarga dapat informasi dari Polsek Wori yang menghubungi dan langsung melakukan via Skype,” tukasnya.

Baca Juga:  Sri Manalip Didesak Mundur dari Bupati Talaud

“Kami keluarga tak melaporkan kepada polisi karena setau kami pihak tempat aldi bekerja menanggung akan tetapi tidak, kami mengadu kepada bos aldi bekerja dan bis aldi mengatakan suda di filipina tetapi sebenarnya ia tidak mengetahui jelas dan berbohong,” Imbuhnya.

Di sisi lain, Alfian menambahkan, pihak keluarga menyayangkan sikap dari bos Aldi bernama Rendy (pemilik rakit) berdomisili di Tumumpa Kecamatan Tuminting.

“Kami sebagai orangtua sangat menyayangkan sikap dari pihak bos aldi yang tidak ada tanggung jawab atas hilangnya Aldi selama 46 hari. Bahkan bos Aldi ketika ditanyai, selalu mengatakan jangan melaporkan masalah ini ke pihak polisi. Tapi hingga Aldi ditemukan di Jepang, bosnya tidak ada tanggung jawab sama sekali. Lebih mirisya gaji Aldi selama bekerja hanya terhitung selama dua bulan dan yang waktu Aldi hanyut itu tidak dihitung. Bahkan gaji Aldi hanya diberikan setengah yakni Rp1.300.000. Sedangkan perjanjian kerja Aldi menerima upah Rp2.000.000 dalam sebulan,” tegas Alfian.

Sementara itu, Pejabat Hukum Tua Desa Lansa V. David membenarkan kejadian yang menimpa Aldi. Ia mengatakan Aldi sudah dari tahun lalu kerja di rakit. Dan Aldi berangkat dari Desa Lansa hanya sendiri. “Setahu saya Aldi kerja pada bos pajeko di Tumumpa yang mengerjakan Aldi di rakit,” katanya.

“Saat Aldi dalam keadaan hanyut kedua orang tua tidak tahu. Dan tidak ada laporan ke Pemerintah Desa. Bahkan saya nanti tahu dapat telepon dari Polsek Wori,” imbuhnya. (fan/zly)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional