Menu

Bersihkan Sungai, Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?

  Dibaca : 52 kali
Bersihkan Sungai, Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?

Puncak Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia 2018 di Sulut

MANADO — Peringatan Hari Habitat Dunia (HHD) dan Hari Kota Dunia (HKD) 2018 tingkat Provinsi Sulawesi Utara dipusatkan di Sungai Tondano dan Sungai Tikala, Senin (1/10/18) pagi. Tuan rumah pelaksana adalah Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) 1, dan Ditjen Cipta Karya dengan empat sektor di Sulut menjadi partisipan.
Jajaran Ditjen Cipta Karya hadir full team dalam puncak peringatan HDD dan HKD 2018 itu. Terdiri atas Satuan Kerja (Satker) Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (PSPAM), Satker Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP), Satker Pengembangan Kawasan Permukiman (Bangkim), dan Satker Penataan Bangunan Lingkungan (PBL).
Pemilihan lokasi dua sungai besar di Manado sebagai pusat kegiatan bersih-bersih yang merupakan bagian dari Gerakan Indonesia Bersih, itu karena kondisi sungai di Manado dan Sulut secara umum sangat memprihatinkan. Rata-rata sudah kotor dengan sampah, dan terus kotor seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.
Kepala Satker PSPAM Sulut, Halid Saleh mengatakan niat membersihkan sungai jangan pernah luntur. Karena sungai merupakan nadi kehidupan, apalagi bagi warga di Sulut.
“Bila tekad dan semangat masih ada di dada, tak ada kata terlambat membersihkan sungai. Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi?” ujar Halid.
Kepala Satker PLP Sulut, Abubakar Idrus mengatakan sampah menjadi masalah krusial di Indonesia, termasuk Sulut. Menurutnya, seluruh stakeholders masyarakat mesti komitmen dengan aturan pengelolaan sampah, sehingga masalah ini perlahan akan terselesaikan.
“Sayangnya sungai masih menjadi tong sampah raksasa oleh sebagian besar masyarakat. Kesadaran harus terus dibangun supaya sampah tidak menjadi beban pembangunan bangsa,” ujarnya.
Kepala Satker PBL Sulut Rus’an Taib melihat dari sisi lain soal eksistensi sungai. Yakni, harus merubah pola pikir bahwa sungai letaknya di belakang rumah sehingga seenaknya mengotorinya.
“Jadikan lah sungai seperti halaman depan rumah kita. Karena sungai merupakan bagian tak terpisahkana dari kehidupan sehari-hari, dan sungai adalah taman bermain keluarga,” kata Rus’an.
Kepala Satker Bangkim Sulut Alfrtis Makalew menyinggung soal kesadaran dan budaya perilaku masyarakat soal budaya bersih. “Sungai yang bersih mencerminkan masyarakat yang berbudaya bersih,” kata Makalew.
Sementara secara nasional puncak peringatan HHD dan HKD, seharusnya dipusatkan di Palu, 30 September-3 Oktober 2018. Namun karena bencana gempa dan tsunami menerjang Palu dan Donggala, 28 September lalu, sehingga pelaksanaan hanya dilaksanakan di masing-masing daerah.
Tahun ini, HHD 2018 mengambil tema Municipal Solid Waste Management sedangkan HKD 2018 mengambil tema Building Sustainable and Resilient Cities. Dengan tema tersebut, Peringatan HHD dan HKD 2018 ini dapat menggaungkan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan memikirkan solusi atas berbagai isu perkotaan dalam rangka mendukung terwujudnya kota yang berkelanjutan dan tangguh.
Dalam rangkaian peringatan ini Kementerian PUPR didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan semua Kementerian/Lembaga menyelenggarakan Gerakan Indonesia Bersih (GIB) pada tanggal 28 September – 3 Oktober 2018 secara serentak di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan untuk membersihkan sampah di tempat-tempat publik termasuk pada badan air dan pantai oleh seluruh elemen masyarakat.
Serangkaian kegiatan lainnya juga diselenggarakan untuk meningkatkan perhatian serta kepedulian Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan serta pengurangan secara signifikan volume sampah dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan mengubah sampah yang tidak dapat didaur ulang menjadi energi dengan melibatkan semua komponen masyarakat, baik di pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota.
“Isu sampah telah menjadi perhatian global karena semua negara menghadapi masalah tersebut. Masalah sampah adalah masalah perilaku, karenanya diperlukannya perubahan perilaku masyarakat untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya. Ini merupakan salah satu langkah revolusi mental,” kata Sekretaris Ditjen Cipta Karya Rina Agustin, di Kementerian PUPR, Kamis (27/9/18).
Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Dodi Krispratmadi mengatakan, sampah juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. Dalam Perpres No. 35 tahun 2018, Pemerintah Pusat mendorong pemerintah daerah membangun instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan terutama di 12 kota, yakni Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Semarang, Surakarta, Surabaya, Makassar, Denpasar, Palembang, dan Manado.
“Hal ini merupakan kesempatan yang baik bagi pemerintah daerah untuk mencari inovasi terhadap isu terkait pengelolaan sampah. Baiknya pengelolaan sampah tentu saja akan berdampak positif pada aspek pariwisata, ekonomi, dan kesehatan,” kata Dodi.
HHD diperingati oleh negara-negara anggota PBB setiap tahunnya, termasuk Indonesia. Hari Habitat Dunia yang ditetapkan PBB tahun 1985 diperingati setiap Senin pertama di bulan Oktober. HHD diperingati dengan tujuan untuk merefleksikan kondisi permukiman dunia dan hak dasar semua kalangan masyarakat untuk tempat tinggal yang memadai.(baz)

Baca Juga:  BWSS 1 Inisiasi Bersih-bersih Sungai Tondano dan Sungai Tikala
Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional