Menu

Kopi Kita Masih Pahit (1)

  Dibaca : 78 kali
Kopi Kita Masih Pahit (1)
Kopi Tubruk


Oleh:
Bahtin A. Razak

Kedai kopi saat ini tumbuh subur. Mesti tak sepenuhnya bisa digambarkan tumbuh seperti jamur di musim hujan, tapi kemunculannya cukup banyak. Rupa-rupa model kedainya. Ada yang oldest style dengan menu khas kopi susu dan kopi tubruk, ada pula yang kekinian dengan menu espresso base dan single origin (SO).

Harus diakui kemunculan puluhan kedai kopi di seantero Sulawesi Utara, tidak lepas dari kreatifitas anak-anak muda. Jangankan di jalan-jalan protokol, sampai ke lorong-lorong dengan memanfaatkan garasi hingga teras rumah pun kedai kopi hadir. Anak muda pula yang jadi pengelolanya: dari barista (peracik kopi) hingga pelayan adalah anak muda.

Menjamurnya kedai kopi, yang pelaku usahanya didominasi anak muda, telah memberi dampak ke beberapa aspek. Seperti penyerapan tenaga kerja, munculnya aneka jenis kopi, bergeliatnya menu-menu makanan lokal yang jadi pendamping saat menyeruput kopi (aneka gorengan maupun penganan), dan membanjirnya bahan-bahan lain pencampur minuman kopi seperti susu segar. Bahkan untuk produk susu segar—dengan motode pengolahan pasteurisasi—sudah ada agen khusus di Manado. Sebelumnya tidak ada.

Namun demikian, tren kedai kopi di seantero Sulut ini belum memberi dampak langsung kepada petani kopi. Sebetulnya belum ada data riil berapa banyak petani kopi di Sulut. Tapi daerah-daerah penghasil kopi ada beberapa yang sudah eksis, ada juga yang baru bermunculan. 

Selama ini di Sulut, Kopi Kotamobagu yang dikenal masyarakat. Dan kopi dari wilayah Modayag, Kabupaten Boltim, itu yang tetap bertahan jadi tren penikmat kopi oldest style di Sulut. Di Kotamobagu juga sudah ada kopi dengan jenis yang sama di wilayah Bilalang. Di  Kotamobagu kopinya berjenis Robusta. Daerah lain yang sudah teridentifikasi jadi penghasil kopi ada Koya Tondano yang satu area dengan Tondangouw Tomohon dan Rurukan Tomohon. Menurut para pecinta kopi—yang pasti anak-anak muda—sudah ada juga di Tompaso Minahasa, Motoling Minsel, dan Ollot Bolmong Utara. Di Motoling juga sudah dibudidayakan kopi jenis Liberika, yang memang sangat jarang di pasaran.

Tapi sebagian besar wilayah-wilayah ini hanya mengembangkan kopi jenis Robusta, sama dengan Kotamobagu. Hanya Koya Tondano yang identik dengan jenis kopi Arabika. 

Lalu, apa perbedaan dari dua jenis kopi ini? Di banyak literatur menjelaskan berbagai perbedaan. Yang pasti perbedaannya banyak. Dari rasa hingga harga jual. Untuk rasa, Robusta berkarakter bitter atau lebih pahit dan memiliki kandungan kafein dua kali lebih tinggi dari Arabika. Sedangkan Arabika memiliki rasa yang lebih variatif seperti floral, fruity, orange, buttery, chocolate, caramel, dan lainnya. 

Dan untuk kepentingan petani, kayaknya lebih ‘seksi’ bila melihat dari aspek harga. Perbedaan harganya memang cukup mencolok. 

Untuk harga kopi Kotamobagu (Robusta) dalam bentuk biji yang sudah diroasting atau sengrai (songara, dalam bahasa Manado) Rp75 ribu per kilogram. Sedangkan jenis Arabika biji yang sudah dari berbagai daerah asal, termasuk Koya Tondano, dijual dengan harga Rp110 per 200 gram atau Rp550 ribu per kilogram. Rp75.000 berbanding Rp550.000. Silahkan dibayangkan perbedaan harganya.

Dari Sulut hanya ada 1 jenis Arabika yang diproduksi yakni Koya Tondano. Produksinya pun sangat terbatas. Sekali produksi paling lama sepekan langsung ludes. Itu pun sudah dibooking oleh para pemilik tempat roasting atau kedai kopi yang sudah punya alat roasting sendiri. “Biasanya hanya dapat 5 kilo green bean. Nanti tunggu waktu panen ulang baru dapat lagi,” kata Noval Rantung, pengelola Black Cup Coffee and Roastry. 

Untuk kopi jenis Robusta, khususnya Kopi Kotamobagu, pasarannya sangat luas. Selain untuk kopi tubruk—yang kopinya sudah dihaluskan—yang paling tren di masyarakat, Kopi Kotamobagu juga menjadi pilihan utama untuk menjadi bahan utama kopi susu yang dicampur susu kental manis.

“Kopi Kotamobagu susah untuk jadi menu-menu espresso base karena kualitasnya rendah. Penyebabnya karena proses pasca panen sampai jadi green bean tidak sesuai standar untuk espresso base,” kata salah satu barista senior di Sulut ini.

Untuk menu-menu espresso base, seperti Espresso, Americano, Caffee Latte, Mocha Latte, dan masih banyak lagi, katanya, kedai-kedai kopi di Sulut mendapatkan green bean bahkan yang sudah diroasting dari luar daerah. Paling banyak dari Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Kopi espresso base berbahan baku Robusta dan sedikit Arabika dengan level roasting medium to dark. Kedai kopi ternama seperti Starbucks, Excelso, Maxx Coffee, dan lainnya sudah memproduksi sendiri kopi untuk espresso.

Rupa-rupa aktifitas berkaitan dengan kopi yang lagi tren beberapa tahun belakangan, sayang belum pernah direspon serius oleh pemerintah daerah. Beberapa komunitas kopi sebenarnya sudah menggelar iven untuk menyemarakkan aktifitas perkopian, tapi sayang minat pemerintah belum sampai mereduksi ‘pahitnya kopi’.(bersambung)

Editor:
Tags
KOMENTAR

1 Komentar

  1. Lucky Rabu, 21 Agustus 2019

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional