Menu

Jle’s Dive Centre and Resort Diduga Lakukan Pengrusakan Lingkungan Minut

  Dibaca : 40 kali
Jle’s Dive Centre and Resort Diduga Lakukan Pengrusakan Lingkungan Minut

IPMINUT — Adanya pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dari Kecamatan Wori hingga Kecamatan Likupang Timur, menjadi angin segar bagi investor yang akan menanamkan investasi pariwisata di Kabupaten Minut.

Namun sayangnya, ada sejumlah investor melakukan pembangunan di daerah pesisir pantai tanpa kajian lingkungan.

Salah satunya adalah Jle’s Dive Centre and Resort di Desa Minaesa, Kecamatan Wori, yang diduga melakukan reklamasi pantai tanpa ada kajian lingkungan.

Padahal lokasi reklamasi ini sangat dekat dengan kawasan konservasi taman Nasional Bunaken yang dapat mempengaruhi biota laut.

Sebab, objek wisata ini kemungkinan sudah menebang banyak pohon mangrove yang ada guna pembangunan reklamasi pantai hingga kurang lebih 100 meter dari bibir pantai.

Ironisnya lagi, reklamasi pantai ini dilakukan tanpa sepengetahuan Hukum Tua (Kumtua) Desa Minaesa, Syahrin Baba.

Ini terungkap saat dikonfirmasi wartawan harian ini.

“Saya tidak tahu kalau ada kegiatan reklamasi. Atau mungkin karena saya baru dilantik,” kata Baba.

Ia juga mengaku jika sampai saat ini pihak Jle’s Dive Centre and Resort tidak pernah melakukan koordinasi dengan pemerintah desa.

“Mungkin Kumtua yang lama tahu soal ini. Tapi, kalau saat ini, belum ada (koordinasi),” ungkapnya.

Meski begitu, ia juga mengaku pernah meminta Jle’s Dive and Resort menghentikan kegiatan mereka lantaran sangat berdampak pada pengrusakan lingkungan.

“Tapi tidak dihiraukan,” ungkapnya.

Senada, Camat Wori Edward Tamamilang, juga mengaku tidak pernah mendapat pemberitahuan sehubungan dengan kegiatan yang diduga telah merusak lingkungan ini.

“Selama saya dipercayakan menjadi camat, saya tidak pernah tahu kalau ada terkait reklamasi ini, karena memang hingga kini pihak perusahaan tidak pernah melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan,” ujarnya.

Di satu sisi, pantauan Indo Post, di depan pintu masuk objek wisata tersebut telah dicantumkan pengumuman jika lokasi pembangunan masih sementara proses kajian lingkungan hidup, hanya saja, pengerjaan proyek tersebut masih dilakukan.

Sementara itu, Konsultan lingkungan dari pihak perusahaan, saat dikonfirmasikan via seluler mengungkapkan, jika permasalahan lingkungan ini sudah pernah ditangani pihak kepolisian dan diambil alih oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulut.

“Memang masih harus diperbaiki karena ternyata ini ada yang belum lengkap. Lalu juga sampai disidik oleh kepolisian dan itu juga bahkan sampai diambil ahli Dinas Lingkungan Hidup Provinsi. Sebab ini sudah masuk kewenangan provinsi,” katanya seraya berkelit jika pembicaraan di telepon tidak memungkinkan karena prosesnya panjang.

“Jle’s sudah punya Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup yang divalidasi DLH Minut. Jadi saya sarankan agar bapak konfirmasi lagi ke DLH. Kami dalam Proses kajian selanjutnya karena ada penambahan besaran skala kegiatan,” ungkap lelaki yang mengaku bernama James ini.

Sementara itu, Kadis Lingkungan Hidup Minut, Theodora Luntungan, ketika dimintai tanggapan terkait reklamasi ini, mengatakan jika pihaknya juga sudah menghubungi pihak perusahaan, tetapi hingga saat ini belum ada pertemuan yang dilakukan.

“Karena berada di lokasi Kabupaten Minut maka kami juga harus turun lokasi dan melihat katanya ada SPPL yang divalidasi DLH Minut. Saya juga harus memastikan itu karena saya baru dilantik belum lama ini. Tetapi terkait perijinannya sudah di Provinsi,” tutup Luntungan yang baru dilantik Kadis Lingkungan Hidup belum lama ini. (fan)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional