Menu

Siap Siaga Gegara Tomat

  Dibaca : 50 kali
Siap Siaga Gegara Tomat

Inflasi Tahun Kalender Sulut 1,95%, Waspada Akhir Tahun

MANADO — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara mencatat selama Agustus 2019 terjadi deflasi sebesar 1,50 persen. Deflasi atau penurunan indeks harga komoditas tersebut paling besar disumbang oleh tomat sayur.

“Tomat menyumbang 3,02 persen, sedangkan cabai rawit (rica, red) justru menyumbang inflasi 0,3049 persen,” ujar Kepala BPS Sulut Ateng Hartono, di Kantor BPS, Senin siang.

Sumbangan deflasi Agustus 1,50 ini menyebabkan capaian inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) tercatat sebesar 1,95 persen, dan inflasi year on year sebesar 3,88 persen.

Secara spesifik Ateng mengungkapkan bahwa inflasi Agustus itu dipengaruhi adanya penurunan indeks pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 9,34 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan indeks adalah kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 5,82 persen.

Menurut Ateng, deflasi komoditas tomat sayur itu perlu diimbangi juga dengan peningkatan kesejahteraan petani tomat. “Harus ada insentif lain untuk petani tomat agar pendapatan mereka terjaga,” ujarnya.

Sementara Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut Arbonas Hutabarat dalam rilis resminya mengingatkan meski sudah dua bulan berturut Sulut mengalami deflasi yang cukup dalam, namun inflasi tahunan Sulut terbilang tinggi (3,88%), dan lebih tinggi dari tingkat inflasi nasional (3,49%).

Katanya, pergerakan harga tomat sayur masih menjadi sumber fluktuasi utama inflasi bulanan Sulut dan masuk dalam lima komoditas utama penyumbang inflasi dan deflasi dalam delapan bulan terakhir.

“Pergerakan harga tomat sayur masih tetap perlu diwaspadai dan menjadi perhatian seluruh instansi terutama memasuki periode permintaan tinggi di akhir tahun,” ujar Arbonas dalam rilisnya.

Untuk mengantisipasi tekanan inflasi dan pergerakan harga tomat sayur tersebut, katanya, perlu dirumuskan langkah-langkah dan strategi yang tepat, khususnya dalam mengatasi kesenjanghan permintaan  dengan produksi sebagaimana dicerminkan tingginya volatilitas harga dan sumbangan komoditas tomat sayur terhadap inflasi di Sulut.

Katanya juga, dengan memperhatikan perkembangan inflasi hingga Agustus, Kantor Perwakilan BI Sulut memperkirakan tekanan inflasi September 2019 akan berada di level moderat cenderung rendah seiring permintaan dan pasokan lebih seimbang.

“Namun demikian tetap perlu diwaspadai pasokan komoditas strategis yang perlu mendapat perhatian mengingat disparitas harga yang meningkat seiring kemarau panjang yang terjadi di Jawa dan selatan Sulawesi. Hal ini akan memberi tekanan inflasi pada sub kelompok bumbu-bumbuan,” ujarnya.

Sementara gangguan cuaca angin kencang memberikan risiko kenaikan inflasi Sulut terutama sub kelompok ikan segar. Selain itu menguatnya tekanan inflasi komoditas beras sebagai bahan makanan pokok masyarakat Sulut juga perlu diberi perhatian lebih melalui operasi pasar Cadangan Beras Pemerintah (CBP) bersama Bulog dalam rangka Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH). “Agar tidak menimbuilkan efek pada peningkatan harga komoditas turunan lainnya di kemudian hari,” imbau Arbonas.

Kata dia, upaya pengendalian inflasi Sulut juga akan terus dilaksanakan oleh Bank Indoensia bersama TPID provinsi maupun kabupaten/kota. BI juga mengacu pada roadmap pengendalain inflasi berupa prinsip 4K (ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi aktif).(baz)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional