Menu

Pariwisata Sulut Terkendala SDM

  Dibaca : 37 kali
Pariwisata Sulut Terkendala SDM
Pemaparan kondisi pariwisata Sulut

Gobel: Tapi OD-SK Telah Gairahkan UMKM /// sub

MANADO — Pertumbuhan pariwisata Sulawesi Utara yang selang beberapa tahun melejit, masih diperhadapkan dengan lemahnya SDM dan sarana penunjang kepariwisataan. Pemerintah sudah mendorong geliatnya, namun masih butuh dukungan sejumlah stakeholders.

“SDM kepariwisataan masih perlu digenjot lagi. Ada banyak aspek penyebabnya. Pemerintah provinsi sedang berupaya, termasuk kolaborasi dengan swasta dan pemerintah kabupaten/kota,” kata Kepala Dinas Pariwisata Daerah Sulut Daniel Mewengkang saat menjadi narasumber kegiatan Media Gathering yang digelar Biro Protokol dan Humas Setdaprov Sulut, Rabu (6/11/2019), di Kantor Gubernur Sulut.

Setali tiga uang, Staf Khusus Gubernur bidang Pariwisata Dino Gobel dan Ketua ASITA Sulut Merry Karouwan pun mengakui hal yang sama. Namun keduanya berpendapat bahwa masalah itu tidak bisa hanya dibebankan ke pemerintah.

“Masyarakat, terutama mereka-mereka yang terjun di sektor terkait pariwisata harus menyadari bahwa pariwisata itu adalah jasa, dan jasa itu adalah kenyamanan dan kepuasan pelanggan. Perlu kemampuan SDM untuk memelihara kenyamanan dan kepuasan itu. Makanya, ini adalah kewajiban semua pihak di Sulut,” ujar Gobel.

Mewengkang mengaku belum maksimal dalam menjalankan wisata di Sulut, namun pemerintah selalu berupaya dalam mengembangkan wisata di Sulut sesuai harapan pemerintah Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw (OD-SK).

“Pembenahan fasilitas serta pemantapan SDM pada 2020 nanti. Tata kelola pariwisata sementara ditata, termasuk RIPPARPROV,” ujarnya.

Sedangkan Dino Gobel membeber bahwa upaya OD-SK memajukan sektor pariwisata sudah membawa dampak yang baik bagi UMKM di Sulut. Katanya, produk UMKM di daerah sudah bergairah, terlebih untuk masyarakat yang berada di sekitar lokasi destinasi pariwisata.

“Sekarang sudah ada pasar, pembelinya sudah jelas dan pasti. Ini efek positifnya OD-SK getol menggnjot pariwisata,” ujar wartawan senior ini.

Dia mencontohkan pusat souvenir di Marina Plaza, pemiliknya dengan berani membeli ‘mati’ produk kerajinan UMKM Sulut. Demikian juga di beberapa lokasi lain. “Tidak ada yang namanya titip atau konsinyasi, langsung bayar ini positifnya: UKM hidup,” ujar Dino.

Begitu juga di Bukit Kasih, Kawangkoan, Minahasa, jika sebelumnya ibu-ibu hanya berputar di urusan rumah tangga, namun kini sudah punya usaha. Antara lain pijit kaki atau pun berfoto dengan burung Manguni, khas Minahasa.

“Mereka berkata, ‘siapa yang mau kasih free 300 sampai 600 ribu tiap hari dari usaha ini?’. Artinya, pariwisata sudah berdampak ke masyarakat, seperti cita-cita OD-SK,” ujarnya.  

Meski demikian, masih banyak yang perlu dibenahi lagi. Seperti SDM dan sarana pendukung. Juga penciptaan destinasi baru, dan destinasi identik di daerah. “Kabupaten/kota juga harus sadari ini. Kami salut dengan Tomohon. Bitung, dan Boltim,” ujar Dino.

Media Gathering yang membahas Tantangan Industri Pariwisata Sulut ke Depan ini menghadirkan Ketua Asita Sulut Merry Karouwan, pelaku usaha Safari Tour Jeremy Barens, General Manager Hotel Peninsula I Putu Anom Dharmaya, Hartini dari Tasik Ria Dive Resort, dan Karo Protokol dan Humas Dantje Lantang.(baz)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional