Menu

Pesisir Pulau Ruang Rusak Parah Akibat Galian C

  Dibaca : 118 kali
Pesisir Pulau Ruang Rusak Parah Akibat Galian C

IPSITARO — Penambangan batu, pasir dan kerikil di Pulau Ruang Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Sitaro, Sulut, terus berpolemik.

Apalagi belakangan ini dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan kian nampak.

Tidak heran jika kemudian sejumlah warga yang mendiami pulau Ruang menyerukan agar aktivitas galian C di wilayah mereka dihentikan.

Bahkan, Kapitalau (Sebutan untuk kepala desa) Pumpente, Frengki Burila, dengan tegas menyerukan agar pengerukan batu, pasir dan kerikil dihentikan.

“Pemerintah daerah tolong seriusi persoalan ini karena jelas-jelas ini merupakan pengrusakan lingkungan,” tegas Burila, Kamis (14/11/19).

Ia juga menyebutkan, jika kondisi ini tidak segera ditindaklanjuti, maka bukan tidak mungkin akan terjadi gesekan antara warga pulau Ruang dengan para pekerja galian C.

“Yang lain sedang asyik mengais keuntungan dari sini (Galian C, red), sementara kami warga pulau Ruang menerima dampaknya (abrasi, red),” sindirnya.

Dibeberkannya, dalam sehari hampir 100 kubik material berupa batu pasir maupun kerikil diangkut dari pulau Ruang.

“Artinya, jika kita estimasikan dalam sebulan (25 hari kerja), ada kurang lebih dua ribu lima ratus kubik yang diambil. Sementara, kegiatan ilegal ini sudah terjadi bertahun-tahun, coba bayangkan berapa banyak sumber daya alam di sini yang mereka ambil tanpa memberi kontribusi berarti,” ungkapnya dengan nada kesal.

“Jadi, kalau ini dibiarkan terus menerus, maka dipastikan kerusakan lingkungan di sini akan semakin parah,” tambahnya.

“Bukan tidak mungkin juga akan berujung pada pertumpahan darah,” sebutnya lagi.

Sementara itu, Yermias Malendes, warga Pumpente yang telah kini berdomisili di pulau Tagulandang yang juga ikut menambang material, saat ditemui wartawan harian ini mengaku, kegiatan ilegal ini terpaksa dilakukan karena desakan ekonomi.

“Anak saya sedang kuliah, dan butuh uang. Itulah sebabnya saya terpaksa lakukan ini,” akunya.

Disinggung soal penghasilan, ia mengaku bervariasi.

“Untuk satu kubik pasir dibayar seratus tujuh puluh lima ribu,” ungkapnya.

Dirinya juga mengatakan, jika pemerintah menutup penambangan ini, maka dipastikan ia bersama rekan-rekannya akan kehilangan pendapatan.

“Terus kita harus cari uang dimana untuk biaya sekolah anak,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, sebelumnya pemerintah daerah melalui pihak kecamatan telah mempertemukan para pelaku galian C, pengusaha dengan warga pulau ruang guna mencari solusi terhadap polemik itu.

Pada saat itu terjadi kesepakatan di mana pengambilan material diizinkan namun hanya 3 bulan, dan mulai Oktober sudah tidak boleh lagi ada pengerukan.

Namun, fakta di lapangan justru bertolak belakang di mana sampai saat ini (November, red), masih ada yang mengeruk pasir, kerikil maupun batu di pulau Ruang. (gus)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional