Menu

Kisah Mahasiswa Papua di Manado, Pengalaman dan Kehidupan Toleransi

  Dibaca : 26 kali
Kisah Mahasiswa Papua di Manado, Pengalaman dan Kehidupan Toleransi
Boyke Ridarco

KOTA Manado dikenal sebagai Kota Toleran. Ya, di dalamnya terdapat keberagaman dan perbedaan menyatu dalam bingkai toleransi dan kebersamaan yang kokoh di hati rakyat Manado.

Tak heran, banyak masyarakat dari luar Manado ‘jatuh hati’ (senang) berkunjung maupun memilih kerja dan menuntut ilmu di Kota Manado.

Salah satunya dirasakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi, asal Papua bernama Boyke Ridarco Fanataf.

Menurut Boyke sapaan akrabnya, saat berada di Kota Manado ia merasa nyaman karena tingkat toleransi masyarakat yang tinggi.

“Kalau tinggal di Manado ini rasa nyaman saja. Orang-orang di sini (Manado) baik dan ramah. Hanya saja, tergantung pendekatan kita,” tuturnya, kemarin.

“Kalau pendekatannya baik, alam itu pasti akan menyatu dengan kita. Artinya kita menyesuaikan dengan kehidupan di sini. Ketika kita menyesuaikan, semakin lama kita akan berbaur. Intinya kalau dibilang nyaman ya nyaman,” ucap Boyke.

Dia mengatakan sifat dasar orang Manado dan orang Papua itu mirip karena masih terbawa budaya timur.

“Orang sini kan 11-12 (hampir sama) dengan orang Papua. Budaya timur masih kental. Tapi Manado semakin berkembang. Dan kita (Papua) baru tahap-tahap mau ke sana,” ucap mahasiswa yang sebentar lagi menyelesaikan studinya ini.

Boyke menceritakan bahwa dia juga pernah melakukan beberapa pekerjaan sampingan untuk menambah uang sakunya.

“Pengalaman terkait itu, saya sudah banyak sekali. Saya pernah pikul pasir naik turun dua tingkat. Itu dua ret saya pikul selama dua hari, biasa lah namanya cari-cari hidup bgitu sudah biasa,” tuturnya.

Ia mengakui memang awal tiba di Manado, dirinya merasa malu-malu dan juga sedih karena terpisah jauh dari orang tua.

“Pertama datang, kalau mau sedih terlalu juga tidak. Karena ada kaka-kaka saya di sini, kami datang itu biasanya ada banyak, jadi komunitas kami jalan itu selalu bersama-sama,” ucapnya.

Menurutnya, para senior asal Papua di Kota Manado sangat membantu saat dirinya dan teman-teman mahasiswa baru. Ia mengatakan meski awalnya banyak aturan yang diterapkan oleh senior-seniornya tetapi lambat laun mereka mulai memahami alasan kenapa aturan ketat tersebut harus mereka ikuti.

“Senior-senior yang jaga kami, ketika kami bikin hal-hal yang salah itu mereka marah, pesan orang tua kepada senior-senior kami, ingat jaga adiki-adik kamu, bahkan awal kami datang, uang itu satu pintu. Awalnya kami rasa itu asing tetapi lama-lama kita befikir bahwa itu benar dan baik adanya dan itu harus kita contohkan untuk yang lain,” ujar Boyke.

“Mereka yang kerja setengah mati ketika kami datang, karena mereka yang bantu daftarkan kami dari awal sampai semua urusannya selesai, jadi kerja mereka urus kami saja, bahkan kami diajari istilah-istilah yang ada di Manado juga,” katanya.

Setelah pendaftaran selesai kehidupannya sebagai mahasiswa masuk ke fase penyesuaian lingkungan kampus. Menurut Boyke pada fase tetsebut memang ia membutuhkan waktu yang lumayan lama.

Namun lambat laun, dia mulai mendapatkan teman-teman di lingkungan kampus. Ia berujar awalnya rekan-rekannya merupakan sesama perantau dari luar wilayah Sulawesi Utara (Sulut). Namun seiring berjalannya waktu, pergaulannya mulai terbuka dan keakraban dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya mulai terjalin.

“Kalau di kampus itu kembali pada keterbukaan kita untuk mencari relasi,” ucapnya.

Boyke yang tidak lama lagi akan menyandang status sarjana ini berencana akan membangun usaha di kampungnya yang terletak di Distrik Aifat Utara, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat.

“Saya punya keinginan besar untuk ikut berpartisipasi membangun daerah disana terutama kampung saya, entah nanti jadi pengusaha atau bagaimana, intinya jadi orang sukses dan bisa memberikan kontribusi kepada daerah dan keluarga,” tutupnya. (zly)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional