Menu

Tumiwa Bakal Jadikan BPSDM Sebagai Laboratorium Kompetensi Birokrasi

  Dibaca : 46 kali
Tumiwa Bakal Jadikan BPSDM Sebagai Laboratorium Kompetensi Birokrasi
RANCANG IDE: Roy Tumiwa berdiskusi informal dengan dua Widyaiswara di BPSDM di sela peninjauan ruang kerja staf.

MANADO — Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Sulawesi Utara Roy Marhaen Tumiwa langsung melakukan konsolidasi dengan jajarannya usai serah terima. Selasa (28/07/2020) pagi, Tumiwa mengumpulkan para pejabat struktural dan widyaiswara di salah satu halaman kantor.

“Ada banyak tugas untuk pengembangan kompetensi SDM birokrasi Sulut yang mesti diciptakan dari instansi ini,” kata Tumiwa.

Mantan salah satu kepala sub bidang Badan Diklat—sebelum dirubah jadi BPSDM—era 2000-an itu mengungkapkan dia berkeinginan bahwa BPSDM menjadi laboratorium kompetensi birokrasi di Sulut.

“Mestinya BPSDM, itu tugasnya. Menciptakan SDM birokrasi yang handal dan bermanfaat untuk masyarakat. Makanya perlu inovasi yang besar,” ujar mantan Kepala BKD Sulut itu.

Kemarin sore, sebelum pulang kantor, mantan Kadis Kehutanan tersebut meninjau beberapa ruangan, termasuk bernostalgia di ruang kerja para Widyaiswara. Sebab, di ruangan tersebut Tumiwa berkantor sebagai kepala sub bidang sebelum dipromosi menjadi Kabag Tata Usaha Pimpinan (TUP) era Sekdaprov Almarhum Johanis Kaloh sekitar 2003-2004.

Di ruang yang open management berukuran kira-kira 10×20 meter itu, meja ‘milik’ 19 Widyaiswara di BPSDM berada di pinggir-pinggir ruangan. Di semua meja, baik meja kerja Widyaiswara maupun meja utama di depan pintu masuk, bertumpuk makalah hasil proyek perubahan para peserta diklat dari seluruh Sulut.

“Di sini tempatnya Bidang Pengembangan Kompetensi Struktural. Dulu masih di sekat-sekat untuk ruang kerja pejabat dan staf. Waktu itu kepala bidang pak Robby Mamuaja (mantan Sekdaprov),” ungkapnya kepada tiga orang Widyaiswara yang bertugas sebagai piket.

Kepada Widyaiswara tersebut Tumiwa mengungkapkan bahwa perlu ada perubahan metode pengajaran dan pendidikan kepada peserta diklat untuk semua tingkatan struktural maupun diklat teknis.

“Logikanya kan peserta diklat yang tahu masalah yang ditemui dan dihadapi masing-masing dalam tugas kesehariannya. Makanya, perlu perubahan metode bahwa Widyaiswara itu posisinya sebagai fasilitator untuk pemecahan masalah tersebut. Dikaji bersama-sama.  Dan, di situlah letaknya salah satu fungsi BPSDM sebagai laboratorium kompetensi birokrasi,” ujar Tumiwa diamini para Widyaiswara. “Nanti sama-sama kita rancang diklat yang dibutuhkan birokrasi di Sulut, khususnya diklat teknis,” tutupnya.(baz)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional