Menu

Kisah Sedih Hilangnya Kades Bakida di Kabupaten Bolsel yang Terseret Banjir

  Dibaca : 229 kali
Kisah Sedih Hilangnya Kades Bakida di Kabupaten Bolsel yang Terseret Banjir
IKHLAS: Nazwa Ibrahim, terus menunggu kabar ayahnya yang sudah enam hari belum ada kabar setelah hanyut terseret banjir. Tampak pula Anggota DPR RI Herson Mayulu mencoba menghibur Nazwa.

Nazwa Tetap Tunggu Papa Biar Tinggal Jasad

IPBOLSEL – Keberadaan Sangadi atau Kepala Desa Bakida, Kecamatan Helumo, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Reslan Ibrahim belum ada titik terang.

Sudah 6 hari pasca-terseret arus sungai Bakida, Jumat (24/07/20) pagi, hingga kini masih dalam pencarian.

Keluarga, handai taulan, bahkan masyarakat Bolmong Selatan menanti kabarnya.

Mengenakan jilbab hitam dipadukan kaos putih lengan panjang dan celana hitam, Nazwa  duduk di kursi plastik tepat di samping ibunya, Epi Dilapanga, diteras rumahnya di Desa Bakida Kecamatan Helumo.

Paras cantik putri tunggal Sangadi Bakida ini tidak bisa menutupi kesedihannya atas hanyutnya ayah yang dicintainya itu.

Namun sesekali senyum ramah terlihat dari bibir gadis ABG ini, saat ditemui wartawan koran ini, Selasa (28/7/2020).

Kepada koran ini Nazwa mengaku bahwa banjir yang melanda Desa Bakida dan sejumlah desa lain, Jumat (24/7/2020) merupakan awal kesedihannya.

Hari itu, kata dia, sekira pukul 07:00 Wita, Nazwa melihat sosok lelaki cinta pertamanya saat hadir di dunia itu, mengenakan kaos lengan panjang biru berpadu dengan celana pendek coklat, sendal merah, dan membawa payung biru, turun dari tangga teras  rumahnya.

Pagi itu, hujan masih turun dan banjir sudah menggenangi seluruh kampung Bakida, Nazwa tidak lagi bertanya kemana ayahnya pergi.

Sebagai anak kepala desa, sedikitnya dia paham dengan tugas ayahnya.

“Pagi itu masih hujan, jadi papa pakai payung dan pergi melihat rumah warga yang terendam banjir,” kata Nazwa.

Tidak hanya ayahnya, ibu Nazwa juga turut meninjau rumah warga yang terendam banjir. Selang 1 jam, Nazwa mendengar informasi jembatan yang berjarak sekira 100 meter dari rumahnya nyaris ambruk.

Penasaran iapun ingin melihat kejadian itu. Namun, baru saja hendak melangkahkan kaki, dia sudah mendengar warga berteriak-teriak: “Sangadi anyor, sangadi anyor, sangadi anyor.” (Sangadi hanyut, sangadi hanyut, sangadi hanyut, red).

Mendengar teriakan warga itu Nazwa ternganga, dan  hatinya kacau bak disambar petir.

Namun dia masih menajamkan pendengarannya mencoba memastikan teriakan itu benar atau hanya candaan.

Tapi, nyatanya apa yang didengarnya tidak salah.

Ia berusaha berlari untuk memastikan informasi tersebut.

Sayangnya, hatinya tak kuat, tubuh mungilnya langsung lunglai ke lantai.

“Saya mau ke jembatan untuk memastikan informasi itu, tapi saya tidak kuat lagi, dan pingsan,” ungkap Nazwa.

Saat dirinya sadar setelah pingsan, rumah sudah dipenuhi warga.

Dia juga menyaksikan ibunya yang juga baru sadar usai pingsan terisak tangis.

Nazwa tidak bisa lagi menahan air matanya.

Ia terisak. Tersedu-sedu. Yang paling menyayat hatinya, kejadian naas yang menimpa ayahnya itu terjadi di depan mata ibunya.

“Mama sempat menegur ayah, ‘Papa Nazwa jang badiri di situ (Papa Nazwa jangan berdiri di situ, red),” kata Nazwa lagi.

Namun, seperti menirukan kembali cerita ibunya saat itu, hanya berselang beberapa menit tanah yang dipijak ayahnya amblas digerus arus air sungai.

“Mama langsung pingsan,” ungkap Nazwa, disambut tangis ibundanya yang duduk di sampingnya.

Gadis yang masih duduk di kelas II SMP ini  menguatkan dirinya sendiri, iapun ingin mencari ayahnya di bibir pantai.

Setiap langkahnya  diiringi air mata, ia bahkan memegang satu persatu tangan warga yang berada di lokasi dan meminta tolong mencari ayahnya.

Lima hari berselang upaya pencarian yang melibatkan Basarnaz, anggota TNI-Polri dan masyarakat, belum juga membuahkan hasil.

Kerinduan Nazwa semakin memuncak, ia  kembali meminta tolong Basarnas agar bisa menemukan lelaki yang menemaninya sejak lahir itu.

“Saya minta tolong Basarnas dan semua yang terlibat tolong cari papa saya. Jika memang sudah meninggal, saya akan berusaha ikhlas dan pasrahkan kepada Allah. Sampai hari ini saya  menunggu  papa walaupun hanya jasadnya. Bahkan hanya sebagian dari jasadnya, tangan kaki atau apa saja. Saya  ingin meminta maaf jika ada yang membuat papa marah. Papa, Nazwa rindu….,” ucap Nazwa dengan bibir gemetar dan bola mata yang basah sambil menundukkan kepalanya.

Sekadar informasi, sekira pukul 07:00 Wita, Jumat (24/07/20) Sangadi Bakida Reslan Ibrahim meninjau rumah warganya yang terendam banjir.

Mendapat informasi Jembatan Bakida nyaris ambruk karena debit air yang tinggi dan arus, dirinya bergegas ke lokasi.

Sesampainya di sekitar jembatan, Sangadi menuju ke tepi sungai untuk melihat kaki jembatan yang mulai miring.

Naas, tanah yang dipijaknya ambruk tergerus arus air sungai, saat itu juga dia jatuh ke sungai.

Warga yang juga berada di lokasi sudah melakukan upaya penyelamatan dengan mengulurkan bambu ke arah sangadi untuk digapai.

Sayangnya, upaya tersebut tidak berhasil. Sangadi hanyut terseret arus air sungai.

Upaya pencarian yang melibatkan Basarnas, tim Sabhara Polda Sulut, Brimob, anggota Polres Bolsel dan Polres Kotamobagu, penyelam Bolsel Diving Club (BDC) serta masyarakat setempat, hingga hari ke 6 belum membuahkan hasil. Tim bahkan belum mendapatkan tanda-tanda korban.

(Roslely Sondakh)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional