Menu

Dua Bayi Tangguh ‘Melawan’ Banjir

  Dibaca : 438 kali
Dua Bayi Tangguh ‘Melawan’ Banjir
SELAMAT: Tampak Proses evakuasi Bayi Fadil di Desa Tabilaa. Foto lainnya, Bayi Alkarni sedang tidur di tempat pengungsian.

Dievakuasi Saat Hujan dan Listrik Padam

BOLSEL — Di tengah bencana banjir yang melanda 15 desa di Kecamatan Bolaang Uki, terselip kisah  dalam  evakuasi warga. Seperti kisah dua bayi laki-laki yang masih berusia 14 dan 25 hari. Muhammad Alkarni Lamaluta dan Fadil Djalali terbilang tangguh. Keduanya dievakuasi saat banjir dengan ketinggian air setara dada orang dewasa, hujan dan listrik padam, Jumat (24/7/20). Muhammad Alkarni Lamaluta bayi usia 14 hari ini, merupakan putra dari pasangan Alwin Lamaluta dan Indrawati Gobel, warga Desa Toluaya Kecamatan Bolaang Uki. Ditemui di tempat pengungsian, Balai Desa Toluaya, Idrawati menuturkan, sekira pukul 01: 00 Wita, Jumat (24/7/20) dirinya yang terbangun dari tidur, melihat air kecoklatan mulai masuk ke dalam rumah.  Saat itu,  dirinya  belum takut karena hal tersebut biasa terjadi saat hujan deras.  “Kalau hujan deras air memang sering masuk rumah, tapi hanya sampai mata kaki,” tutur Indrawati, di temui di lantai II Balai Desa Toluaya, Minggu (26/7/20). Namun lanjutnya, hanya hitungan menit, air sudah sampai lutut. Sekira pukul 03:00 Wita, air sudah mencapai dada. Meski panik, dirinya berusaha tenang dan menyerahkan bayi yang lahir lewat proses caesar ini kepada suaminya. “Ayahnya menggendong si bayi. Saya membawa perlengakapan anak. Karena air sudah sampai dada, suami saya meninggikan tangannya agar Alkarni tidak basah. Kami agak kesulitan, berjalan pelan-pelan karena saat itu hujan dan gelap karena listrik padam ,” tuturnya lagi.
Dikatakannya, tidak hanya Bayi Alkarni, anak tertuanya yang masih berusia 3 tahun juga dievakuasi. “Alhamdulillah, saat itu Ayah metua saya juga membantu menggendong anak pertama saya. Saat evakuasi kedua anak saya diam saja. Apalagi si bungsu  tertidur pulas,” katanya. Awalnya kata Indrawati, keluarganya dibawa ke rumah tetangga, selanjutnya dijemput pemerintah desa dan diungsikan di Balai Desa. “Di sini kami mendapat pelayanan yang baik. Bapak bupati juga sudah menjenguk dan membawa bantuan makanan, popok dan susu. Alhamdulillah sudah tiga hari disini anak-anak saya sehat,” ungkapnya. Lain lagi kisah  Fadil Djalali. Proses evakuasi Bayi usia 25 hari, putra pasangan Hendro Djalali dan Lefa Kawengian, Warga Desa Tabilaa Kecamatan Bolaang Uki ini, berlangsung estafet. Lefa menuturkan, sekira pukul 10:00 Wita, Bayi Fadil baru saja dimandikan. Usai dipakaikan baju dan selimut, dirinya menggendong Fadil ke teras rumah. Saat itu katanya, air banjir sudah sampai lututnya. Namun, ia bersama keluarga belum mengungsi. Hanya berselang beberapa menit, air di rumahnya sudah naik setara dada orang dewasa. “Hanya beberapa menit air sudah sampai dada. Warga mulai teriak dan meminta kami keluar dari rumah,” tuturnya. Meski jarak dari rumah ke jalan hanya sekira 7 meter namun proses evakuasi dilakukan secara estafet. “Fadil empat kali pindah tangan. Dari saya, kepada orang sudah menunggu, lalu ke Ayah Fadil, kepada salah satu orang dari tim Pemkab dan  terakhir orang yang membawa Fadil ke rumah pengungsian,” tuturnya lagi. Dirinya mengaku hawatir karena Fadil dievakuasi saat hujan dan air banjir cukup tinggi. “Saat evakuasi Fadil tertidur pulas dan Alhamdulillah sampai hari ini anak saya sehat-sehat saja,” kata Lefa. Lepas dari kisah tersebut, anak-anak menjadi kelompok yang rentan saat bencana. Apalagi penyakit yang mengancam. Namun hal itu sudah diantisipasi Pemkab Bolsel melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) selaku instansi teknis. “Sejak banjir terjadi tim Dinkes mulai melakukan pendataan Balita yang terdampak banjir. Mereka tidak lepas dari pengawasan kami khususnya kebutuhan asupan gizi,” kata Kepala Dinkes Bolsel, dr Sadli Mokodongan. (lel)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional