Menu

Sejengkal Kemerdekaan di Kampung Nasionalis

  Dibaca : 292 kali
Sejengkal Kemerdekaan di Kampung Nasionalis

17 Agustus 2020, Indonesia genap berusia 75 tahun. Namun, masih ada desa yang belum merasakan kemerdekaan, salah satunya Desa Pomoman, Kecamatan Poigar, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Meski demikian, rasa nasionalis masyarakat setempat tak kalah dengan warga di daerah yang lebih maju. Lalu bagaimana kondisi desa tersebut? wartawan Indo Post, menyempatkan waktu untuk mengunjungi Pomoman, tepat di HUT RI.

 

Laporan; Jackly Makarawung, Kabupaten Bolmong

 

Mentari mulai keluar dari pelukan bumi, bertanda pagi memulai hari. Wartawan koran ini bergegas menuju Desa Mondatong, Kecamatan Poigar, yang menjadi satu-satunya akses jalan menuju Desa Pomoman. Jarum jam menunjukkan pukul 06:45 Wita, sekira 5 Kilometer lepas dari jalan Trans Sulawesi, tepatnya diujung jalan Desa Mondatong, perjalanan dengan menggunakan kendaraan beroda dua mulai menantang. Nyamannya jalan yang diaspal terputus, di depan mata terlihat derasnya aliran air sungai memutus jalan tersebut. Untung saja, di bulan Agustus merupakan musim panas, air di sungai hanya sedengkul dan bisa dilewati dengan menggunakan motor. “Kalau musim hujan sungai ini tidak bisa dilewati dengan kendaraan, sebab ketinggian air mencapai satu meter. Kalaupun ada urusan yang mendesak masuk atau keluar kampung, biasanya warga berjalan kaki dan berenang melintasi sungai,” ungkap Edu, warga setempat yang kebetulan hendak pergi ke Pomoman.

Rintangan melintasi sungai berhasil dilewati, perjalanan dilanjutkan. Kicau burung di rimba, membangkitkan semangat, gejolak hati ingin cepat-cepat sampai. Sayangnya, selang 250 meter perjalanan, aliran air kembali terdengar di telinga, tak disangka di depan kembali ada sungai yang memutus jalan. Serupa dengan sungai sebelumnya, kali ini dalamnya hanya sekira 20-30 centimeter. Namun sungai yang lebarnya sekira 5 meter kembali harus ditaklukkan untuk mencapai kampung di rimba Bolmong.

Perasaan mulai bercampur-aduk, sempat terpikir untuk berbalik arah, kembali pulang. Pasalnya, didepan mata terlihat material batu, berukuran kecil maupun besar menghambat jalan. Namun Edu menggunakan motor 4 tak (four stroke engine) yang sudah dimodifikasi layaknya kendaraan tempur, sabar menunggu untuk sama-sama mendapati kampung tersebut. Sembari menghentikan motornya Edu mengungkapkan jika perjalanan ini belum seberapa. Menurutnya, untuk menggapai desa masih harus melewati 5 sungai lagi. “Di depan masih ada 5 sungai lagi,” bebernya, sembari tersenyum.

Betapa kagetnya mendengar ungkapan tersebut, namun niat sudah bulat, harus sampai tujuan. Sembari beristirahat, kami memperbaiki dan membersihkan motor yang tersangkut material-material saat melintasi sungai. Edu menceritakan, jika hujan deras dan sungai meluap maka akses kendaraan untuk masuk dan keluar kampung tidak ada lagi. Ia mengungkapkan, sempat ada warga yang sakit dan harus mendapatkan pelayanan kesehatan saat musim hujan dan air sungai meluap. Terpaksa katanya, pasien tersebut harus dipikul warga menggunakan kalekos (angkutan menggunakan kayu dan karung yang dipikul) dan yang memikul harus berjalan melewati sungai. “Ini sudah menjadi kebiasaan warga. Mau bagaimana lagi, hingga saat ini belum ada akses jalan memadai,” jelasnya.

Perjalanan dilanjutkan, medan berat harus dilalui. Rindangnya pepohonan di perkebunan cengkeh, kelapa, cokelat dan pala menghiasi perjalanan ke desa. Jarum jam menunjukkan pukul 07:45 Wita, tak terasa 5 sungai dilalui, rumah-rumah warga di ujung kampung mulai terlihat. Jika melihat spidometer motor ada sekira 15 kilometer perjalanan dari Desa Mondatong ke Pomoman.

Tak disangka, meskipun tergolong daerah terisolir, jiwa nasionalisme tetap tumbuh dan berakar bagi masyarakat di desa yang mengantongi 97 kepala keluarga dan  376 jiwa. Saat memasuki kampung, bendera merah putih dan umbul-umbul terpasang di depan rumah penduduk memperingati HUT ke-75 Republik Indonesia. Lebih meriah lagi, hampir semua pagar penduduk dicat nuansa merah dan putih sebagai tanda memperingati hari besar.

Memang patut diacungi jempol. Walaupun serba keterbatasan karena mungkin terlupakan pemerintah, namun tak ada alasan bagi warga untuk melupakan kemerdekaan Republik Indonesia. “Setiap tahun kami selalu menyemarakkan HUT RI. Biasanya, tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan berbagai lomba untuk kemerdekaan. Namun karena adanya pandemi COVID-19 tahun ini tidak dilaksanakan, hanya upacara bendera,” ujar Sangadi Pomoman akrab disapa Pak Didi, yang bergegas menuju balai desa untuk pelaksanaan upacara pengibaran bendera.

Di Balai Desa, Pak Didi sudah ditunggu para perangkat desa dan masyarakat untuk mulai upacara. Meski berlangsung sederhana namun upacara bendera di desa yang mengantongi 3 dusun ini terlaksana dengan baik. Usai upacara Pak Didi menceritakan betapa sulitnya dan banyak keterbatasannya Desa Pomoman. Menurutnya, desa yang mempunyai warga dari etnis Minahasa, Mongondow, Bugis, Gorontalo dan Jawa ini, satu-satunya yang paling diidam-idamkan adalah akses jalan. “Intinya akses jalan dibangun, pastinya sudah memerdekakan kami,” singgung sangadi, sembari tersenyum.

Bukannya tanpa alasan, sebenarnya Pomoman merupakan desa yang kaya dengan sumber daya alam. Di desa ini terdapat, berbagai hasil perkebunan yang melimpah, sayangnya warga sulit memasarkannya karena akses jalan yang sulit dilalui. Alhasil, sebagian besar warga harus hidup dibawa garis kemiskinan karena tidak bisa berbuat lebih untuk meningkatkan perekonomiannya. “Desa ini tidak bisa berkembang karena faktor jalan. Sehingga banyak penduduk terpaksa keluar desa dan menetap di sana karena kondisi seperti ini,” terang Sangadi. “Adapun kendaraan berjenis Toyota Hardtop  yang sudah dimodifikasi sering menjadi alat transportasi warga desa. Namun ongkosnya sangat sulit dijangkau karena sekali jalan pulang dan pergi disewa dengan harga Rp600 ribu,” tambah Sangadi.

Parahnya lagi, sebagai desa terpencil masyarakat setempat harus berjuang keras untuk mendapatkan kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Untuk pendidikan, desa tersebut sebenarnya terdapat dua sekolah yakni SD (sekolah dasar) dan SMP (sekolah menengah pertama). Sayangnya, tenaga pengajar di kedua sekolah tersebut belum memadai, untuk SD hanya ada 5 guru termasuk kepala sekolah sedangkan SMP hanya 3 guru yang terdiri dari 3 pegawai negeri sipil dan seorang tenaga honorer. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan, di desa tersebut pernah dibangun Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) sayangnya sudah tidak berfungsi karena tak ada perawat. “Sebenarnya, beberapa tahun lalu ada perawat namun saat ini sudah tidak ada. Jadi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan masyarakat harus pergi ke pusat kecamatan,” jelas Pak Didi.

Pomoman sebenarnya merupakan desa yang kaya dengan potensi alam. Sebab, selain menghasilkan tanaman yang tumbuh subur, desa ini juga dilengkapi dengan keindahan alam yang mempesona seperti air terjun. Air Terjun Pomoman ini memiliki beberapa tingkatan, di kiri merupakan air terjun paling panjang sekira 30 meter, sedangkan di kanan memiliki 3 tingkatan. Untuk menggapai air terjun yang berada di belakang kampung, harus berjalan kaki sekira 150 meter. Namun jalan menuju lokasinya membutuhkan waktu sekitar 25 menit, jalan yang curam dan licin. Air terjun ini juga membentuk sebuah kolam alami dengan kedalaman sekitar 4 meter. Di kolam ini, bisa mandi berenang atau hanya duduk di bebatuan dan mencelupkan kaki ke air.

Alexander Walangitan, tokoh masyarakat Pomoman mengatakan, tempat yang masih alami ini butuh sentuhan pemerintah untuk dapat meningkatkan pendapatan daerah dengan potensi wisata yang ada. “Di sini ada banyak potensi wisata, selain air terjun ada juga air putih dan air panas. Yang utama itu harus jalan dulu. Kalau akses jalan sudah bagus pasti banyak yang berkunjung supaya desa kami kedepan ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah,” ungkapnya.

Diketahui, Desa Pomoman dahulunya hanya perkebunan warga Bulud yang dinamakan Pomomaan atau tempat persinggahan. Setelah itu, departemen sosial menjadikan tempat ini sebagai lokasi Bantuan Keluarga Bencana Alam (BKBA).  Pada tanggal 24 Maret 1983 merupakan awal masuknya pemukiman di desa Pomoman, warga yang datang bermukim yakni dari Desa Roong, Talour, Kiniar (Kabupaten Minahasa) Sisipan, Bulud dan Poigar (Kabupaten Bolmong) terdapat sebanyak 195 kepala keluarga.

Fret Tampi ditunjuk pemerintah sebagai koordinator pertama, Wahid Mokoginta koordinator kedua, Joutje Kawet koordinator ketiga dan Joutje Kasakean koordinator ke empat. Setelah lama bermukim di lokasi tersebut, Desa Pomoman baru didefinitifkan dengan nomor kode 71-02.15.2008 pada tanggal 25 Maret 1994. Ini  berdasarkan surat keputusan gubernur Sulawesi Utara No.411 tahun 1993 tanggal 30 Desember 1993 yang di tandatangani Gubernur Sulut C J Rantung.

Kepala desa pertama di Pomoman adalah Joutje Kasakean (1994-2000), kedua Ferdinan Karu (2000-2008), kepala desa ketiga Decky Kapojos (2008-2013) sebelum habis masa jabatan beliau meninggal dunia kemudian di gantikan oleh pejabat sementara yaitu Yance Pua selama lima bulan, kemudian digantikan Alexander E Walangitan dan pemilihan beberapa waktu lalu terpilih Sunardi Mokodompit.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bolmong Channy Wayong mengungkapkan, pengaspalan jalan di Desa Pomoman dilaksanakan secara bertahap. Katanya, tahun lalu dikerjakan sekira 5 kilometer dari Desa Mondatong dan tahun ini ada sekira 650 meter kelanjutannya. “Untuk tahun ini hanya dianggarkan satu miliar rupiah karena keterbatasan anggaran disebabkan pandemi COVID-19,” terangnya.

Nantinya menurut Channy, tahun depan kembali dianggarkan untuk pengaspalan jalan. “Kita akan lihat apakah sudah dianggarkan dengan pembangunan jembatan atau belum. Intinya pekerjaan berdasarkan kondisi keuangan, apalagi tahun ini ada begitu banyak pembangunan yang tertunda karena sebagian besar dana pembangunan dialihkan untuk penanganan COVID-19,” tutupnya. (***)

 

 

 

 

 

 

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional