Menu

Tekan BPP, PLN-PGN Teken MoU Bangun Infrastruktur LNG di 52 Pembangkit

  Dibaca : 26 kali
Tekan BPP, PLN-PGN Teken MoU Bangun Infrastruktur LNG di 52 Pembangkit
SINERGI BUMN: Pertemuan daring untuk penandatanganan kerjasama PLN-PGN.

JAKARTA — Untuk mengurangi konsumsi BBM agar bisa menekan Biaya Pokok
Produksi (BPP) tenaga listrik, PLN mempercepat pemanfaatan gas untuk
sektor ketenagalistrikan dengan melakukan penandatanganan Perjanjian
Induk Kerja Sama dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk.  Perjanjian
Induk Kerjasama ini merupakan turunan dari pokok-pokok perjanjian yang
sebelumnya telah ditandatangani antara PLN dengan Pertamina.

Penandatanganan dilaksanakan oleh Direktur Energi Primer PLN, Rudy
Hendra Prastowo dan Direktur Utama PGN, Suko Hartono. Dengan kerja sama itu, PGN akan menyediakan pasokan dan
pembangunan Infrastruktur Liquefied Natural Gas (LNG) di 52 lokasi
pembangkit listrik PLN. Dalam implementasinya PGN dan PLN akan saling
transparan dalam menentukan desain teknis dan struktur tarif gas di
plant gate pembangkit PLN termasuk pemberlakuan tarif gas secara
bertahap (staging). Desain infrastruktur dan pola pasokan gas harus
andal, reliable dan memenuhi aspek keamanan.

Rudi menegaskan kerja sama ini adalah bentuk sinergi BUMN dalam upaya
kemandirian energi untuk mendorong perekonomian nasional dengan
ketersediaan energi listrik yang bersaing dan berkelanjutan.

“Pada prinsipnya, pelaksanaan proyek ini harus efisiensi, efektifitas,
serta keberlanjutan pemanfaatan gas dan ketersediaan tenaga listrik
serta mengurangi konsumsi bahan bakar BBM, hal ini demi menekan BPP
tenaga listrik yang lebih efisien,” ungkap Rudi.

Adapun proyek gasifikasi pembangkit PLN di 52 lokasi ini sesuai
penugasan dari pemerintah kepada PLN dan Pertamina dengan estimasi
kapasitas pembangkit kurang lebih 1,8 GigaWatt.

Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (Kepmen ESDM) 13/2020 tentang Penugasan Pelaksanaan Penyediaan
Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur LNG, serta Konversi Penggunaan
Bahan Bakar Minyak dengan LNG dalam Penyediaan Tenaga Listrik.

Dalam pelaksanaan proyek ini, PGN bertanggung jawab untuk menyediakan
pasokan gas atau LNG, membangun dan menyediakan infrastruktur gas atau
LNG.

Infrastruktur tersebut, meliputi jetty, fasilitas pembongkaran
(unloading), fasilitas penyimpanan, regasifikasi, transportasi gas
atau LNG, pipa gas sampai ke titik serah yang disepakati, termasuk
metering regulating system (MRS) pada pembangkit listrik terkait.

Perjanjian Induk ini juga untuk mengatur penyelarasan pasokan LNG dan
gas dengan kontrak-kontrak penyediaan LNG dan gas milik PLN yang sudah
ada.

Untuk tahap awal, PLN dan PGN sepakat melaksanakan tahap quick win di
Pusat Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Sorong, PLTMG Tanjung Selor,
dan PLTMG Nias.

Tahap Quick win ditargetkan dapat menyediakan harga yang lebih rendah
dari High Speed Diesel (HSD) di plant gate pembangkit PLN.

Dalam implementasinya, para pihak akan sinergis dalam bentuk
koordinasi, penyelarasan kerja sama pemanfaatan fasilitas, percepatan
gasifikasi, optimalisasi serta peningkatan produktivitas fasilitas
yang ditargetkan dapat selesai pada tahun 2020.

Rudi berharap dengan kerjasama ini bisa meingkatkan pencapaian bauran
energi nasional, serta dalam upaya untuk turut berkontribusi dalam
pemulihan perekonomian pascapandemi, peningkatan daya saing, dan upaya
menjaga ketahanan energi nasional.

Sementara itu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM
Rida Mulyana mengungkapkan, proyek ini untuk kepentingan bersama,
seperti diatur dalam Kepmen ESDM 13/ 2020.

Rida menyebut, proyek ini dikerjakan dalam rangka wujudkan ketahanan
energi nasional dan untuk memperbaiki neraca perdagangan.

“Hal ini untuk mewujudkan ketahanan energi nasional dan sekaligus
memperbaiki neraca perdagangan, selain itu, semangat dari Kepmen
tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan program konversi BBM ke gas
(lebih efisien), dan juga untuk menekan BPP PLN yang pada ujungnya
akan bermuara pada tarif listrik yang lebih murah, sehingga mampu
mendongkrak daya beli masyarakat dan daya saing industri. Kedua hal
terakhir tersebut pada saatnya dapat berkontribusi dalam mendorong
roda perekonomian nasional untuk lebih cepat berputar,” ungkap Rida.

Dirinya menambahkan, semua merupakan langkah bersama sebagai anak
bangsa untuk memperbaiki kondisi mulai dari lingkungan
masing-masing.(baz/**)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional