Menu

Urban Coffee Festival 2020, Bangkitkan Kopi Spesiality Asal Sulut

  Dibaca : 48 kali
Urban Coffee Festival 2020, Bangkitkan Kopi Spesiality Asal Sulut
SUKSES: Kompetisi seduh kopi manual, salah satu agenda yang banyak antusiasme komunitas kopi di Urban Coffee Festival 2020 oleh Perwakilan BI Sulut.

MANADO — Bank Indonesia Perwakilan Sulut sukses menggelar Urban Coffee Festival 2020. Festival kopi pertama oleh ‘pemerintah’ di Sulut yang digelar sejak Kamis (19/11) hingga Sabtu (21/11) di Grand Kawanua Convention Center itu, mendapat apresiasi dan antusiasme komunitas kopi di Sulut.

Ratusan pecinta perkopian seantero Sulut, yang didominasi anak-anak muda, mengikuti seluruh agenda yang digelar selama tiga hari penuh tersebut. Dari kelas Sensori Dasar dan Seduh Manual, hingga Kompetisi seduh menarik para pecinta kopi.

Sesi materi pun sangat diminati. Karena keterbatasan kapasitas lokasi untuk menjalankan protokol kesehatan pencegahan penyebaran COVID-19, panitia hanya membatasi peserta paling banyak 100 orang. Itu pun hanya untuk mereka yang telah mendaftar lebih dulu, jauh hari sebelum agenda digelar.

Ada materi Sensori Dasar dan Seduh Manual, Bisnis Kafe di Era Kopi Single Origin, Basic Principlesof Espresso Brewing, Budidaya Kopi Single Origin, Kreasi Coffee Pastry, seminar Sejarah Kejayaan Kopi Sulawesi Utara dan Masa Depannya, talkshow Menjaga Originalitas Kopi Lewat Blockchain Coffee, workshop Latte Art, Healthy Desert Box, Basic Home Brewing, hingga Brewing Competition oleh puluhan barista se-Sulut.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulut Arbonas Hutabarat dalam sambutan penutupan, Sabtu malam, mengatakan Bank Indonesia yang tugas utamanya menjalankan kebijakan moneter yakni menjaga nilai tukar (Rupiah) dan mengatur suku bunga, menjadi riskan ketika memberi perhatian pada perkopian ini. Namun, katanya, ada niat yang besar bahwa perekonomian secara umum tidak bisa lepas dari peran pelaku UMKM, termasuk yang terjun di bisnis kopi.

“Ekonomi kita, khususnya di Sulut, tidak bisa dipungkiri digerakkan oleh UMKM. Bisnis kopi jadi salah satunya. Dari petani hingga di hilir ada kedai-kedai kopi yang menjamur saat ini,” katanya.

Katanya, BI Sulut juga memilih memfokuskan pada kopi spesiality atau Single Origin (SO) karena Sulut memiliki kopi yang khas. Seperti Minahasa Koya, Tomohon Koya, Minahasa Tompaso, Kopi Kotamobagu, dan ada juga Mobalang Kotamobagu.

“Sama seperti daerah-daerah di Indonesia yang memiliki kopi spesiality, kopi asal Sulut juga harus bisa tembus pasar ekspor. Tentunya perlakuan agar menjadi kopi berkualitas harus dilakukan dengan cara yang benar,” ujarnya.

“Makanya, sebelum ini kami sudah melakukan kegiatan di hulu, yakni pembinaan dan pendampingan kepada petani kopi. Dan sekarang ini di sisi hilirnya: bagaimana menyajikan kopi dengan cara yang berkualitas sehingga kekhasan kopi asal Sulut ter-branding dengan kuat,” tambahnya.

Dia berharap, festival kopi seperti ini tidak hanya sampai di sini, namun harus terus dilakukan oleh pihak-pihak lain, khususnya komunitas kopi, agar kopi Sulut benar-benar diakui oleh nasional hingga dunia seperti era 1800-an.

“Kami hanya sebagai pemicu saja, selanjutnya kalian-kalian ini harus melakukan yang lebih baik lagi. Kami siap membantu,” ujar Arbonas.

Sementara itu, dalam iven itu yang paling menarik adalah brewing competition atau kompetisi seduh manual yang memanfaatkan kopi spesiality Sulut: Minahasa Koya. Dari penjurian yang ketat, akhirnya yang memenangkan kompetisi itu adalah Tessa, juara II Kevin, dan juara III Engga dari Bitung.

Iven ini juga menampilkan sejumlah ‘pakar-pakar’ perkopian Indonesia. Antara lain Toni Wahid dari Cikopi, 5758, KopiTani.id, Anas Qpresso, sejarahwan Unsrat Nono Sumampouw, dll.(baz)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional