Menu

Tuna Sangihe Tembus Pasar Jepang

  Dibaca : 48 kali
Tuna Sangihe Tembus Pasar Jepang
SINERGITAS: Pemberian cendera mata oleh Bupati Jabes E Gagana kepada Kepala BKIPM di sela-sela sosialisasi.

SANGIHE — Selain potensi pertanian, ternyata kekayaan laut Kabupaten Sangihe juga sangat menjanjikan. Hebatnya lagi, dalam situasi pandemik, perkembangan di sektor perikanan justru terus menunjukkan grafik menanjak.  Bahkan, menurut data Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Tahuna, hasil kekayaan laut berupa ikan tuna, sudah menembus pasar Jepang. Kabarnya, hingga akhir Oktober kemarin, sudah 401 Kg tuna Sangihe masuk pasar lelang Jepang, sejak dibukanya jalur penerbangan Manado-Narita (Jepang, red). Tidak heran  jika kemudian digelar sosialisasi bertajuk Sinergitas Penerapan Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Dalam Meningkatkan Ekspor Produk Perikanan di Wilayah Kerja SKIPM Tahuna yang melibatkan pemerintah daerah, Badan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Pusat, dan sejumlah pelaku disektor perikanan Sangihe. “Pertemuan ini merupakan kesempatan bagi kita, untuk melakukan berbagai terobosan, edukasi dan komunikasi yang lebih baik,” kata Bupati Sangihe Jabes Ezar Gaghana. Lanjut dia, sinergisme pemangku kebijakan ini, diharapkan mampu terimplementasi dan mensejahterakan rakyat. Sementara itu, Kepala BKIPM Ir. Rina MSi, pada kesempatan tersebut menyampaikan jika dalam perkembangan lalu lintas produk perikanan di dunia saat ini, pada dasarnya sudah tidak bisa dihindari lagi bahwa semua negara mempunyai kriteria yang sangat ketat terhadap kualitas produk perikanan yang akan diimpor. “Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan memberi tugas kepada BKIPM agar bersama-sama menjaga mutu produk perikanan yang akan keluar ke pasar, baik di dalam negeri maupun luar negeri, bersama semua pihak yang terkait lainnya,” ujar Rina. Menurut dia, hal itu dikarenakan semakin baik kualitas produknya, maka akan memberikan hasil terhadap harga jual yang lebih tinggi. Salah satunya, seperti yang terjadi lewat surat Uni Eropa ke pihak BKIPM. “Mereka sekarang tidak semata-mata mau melihat produknya secara langsung, kualitas produknya baik, mutu tangkapnya bagus, tapi mereka menggunakan istilah ‘from farm to fork’ dalam artian, dari produksi sampai ke konsumen harus terjaga kualitasnya. Jadi mereka perlu tahu ini diambilnya dimana, pakai cara apa, bagaimana mengambilnya, dibawa di kapal dengan cara seperti apa, kemudian masuk ke dalam unit pengolahan apa,” beber dia. “Sehingga, kalau kita yakin bahwa mutunya sesuai dengan standar yang dibutuhkan oleh negara penerima dan kita sudah uji baik itu in proccess maupun end proccess, maka kita akan mengeluarkan sertifikat yang menjadi prasyarat masuk ke sebuah negara,” tambahnya. Pada kesempatan tersebut, ia turut menyentil data sektor perikanan Sangihe, dimana pada tahun 2020, hasil tangkap ikan layang di bumi Tampungang Lawo, mengalami peningkatan hingga tiga kali lipat. “Potensi di Kabupaten Sangihe Bukan main. Walaupun wilayah kerja SKIPM meliputi tiga kabupaten yakni Sangihe, Sitaro dan Talaud, tetapi kita lihat disini dengan program KKP membangun SKPT, mudah-mudahan bisa membantu menggerakkan dan mendapatkan produk perikanan khususnya yang mempunyai kualitas yang tinggi sehingga harga jualnya menjadi baik,” ujarnya lagi, sembari berharap agar sosialisasi yang dilangsungkan hari ini, bisa menjadi titik awal peningkatan ekspor. “Kami tahu, Pak Bupati pada beberapa bulan yang lalu sudah berangkat ke Filipina supaya kita bisa direct export,  namun pandemi COVID-19 ini membuat kita mundur selangkah. Meskipun demikian, kita akan cari cara yang lain. Kami pun mendapatkan informasi bahwa sebetulnya ada potensi pengiriman produk perikanan dari kabupaten Sangihe, walaupun dalam bentuk beku sebanyak 7 sampai 10 kontainer per bulannya yang akan mendarat di Jakarta ataupun di Surabaya,” pungkas perempuan ramah ini, sembari meminta bantuan pihak Bea Cukai, agar produk yang sudah jadi kemasan, tidak dibuka lagi melainkan dapat langsung dikirimkan. “Kalau bisa keluar PEB dari sini, maka keuntungan akan ada di sini bukan menjadi punyanya Surabaya atau Jakarta. Dan nanti tercatat dijurnal kita, produk akan keluar tetap dengan nama Sangihe, lantas pemerintah dan masyarakat Sangihe bisa senang, karna mampu memperlihatkan potensi lokal Sangihe,” kuncinya. (ger)

Data Produksi Ikan Tahun 2020
Produk         Sebelumnya   Sesudah
Ikan layang     625 Kg         1.507 Kg
Cakalang        23.000 Kg     183.000 Kg
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional