Menu

Harganas ke-28, Bersama Perangi Stunting

  Dibaca : 36 kali
Harganas ke-28, Bersama Perangi Stunting
Wagub Steven Kandouw saat mengikuti kegiatan secara virtual.

Kaper BKKBN Sulut Tino Tandaju saat membacakan amanat Kepala BKKBN RI

MANADO — Rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-28 Tahun 2021 tingkat Provinsi Sulut sudah dimulai dengan apel menyambut agenda tahunan tiap 29 Juni tersebut. Apel yang melibatkan jajaran Kantor Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulut bersama mitra, di Halaman Kantor BKKBN Sulut, Senin (21/06/2021) pagi.
Bertindak sebagai inspektur apel tersebut Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Utara, Ir. D. Tino Tandaju, M.Erg sekaligus membaca amanat tertulis Kepala BKKBN RI Dr.(H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K).
Hasto dalam sambutan itu mengatakan HARGANAS ke-28 diperingati oleh seluruh lapisan masyarakat baik unsur pemerintah, swasta, organisasi kemasyarakatan, dan para keluarga. Katanya, meskipun dalam pelaksanaan Hari Keluarga tahun ini dengan sederhana di masa pandemi Covid-19, namun banyak hikmah yang dapat diambil sebagai salah satu pembenahan dalam diri dan keluarga.
“Kita untuk tetap berpikir positif sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, dan tentunya harus menciptakan situasi dan kondisi yang dapat memberikan manfaat langsung pada keluarga dan masyarakat. Salah satunya melalui Program Bangga Kencana kepada seluruh keluarga di Indonesia dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan,” ujar Hasto.
Katanya, BKKBN bertekad membangun cara dan semangat baru dalam mewujudkan keluarga berkualitas, maka BKKBN mengambil Tema HARGANAS Ke-28 tahun ini yaitu ”KELUARGA KEREN, CEGAH STUNTING”. Dengan hashtag #KeluargaIndonesiacegahstunting.
“Tema ini bertujuan mensinergikan gerak dan langkah keluarga Indonesia mencegah stunting,” ujarnya.
Sementara itu tujuan khusus adalah meningkatkan peran stakeholders, tokoh masyarakat dan keluarga dalam pembangunan keluarga; dan meningkatkan kinerja pengelola dan petugas Bangga Kencana dalam meningkatkan Program Bangga Kencana serta meningkatkan kepedulian keluarga Indonesia dalam pencegahan stunting.
Hal ini disesuaikan dengan amanat Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo kepada BKKBN sebagai Ketua Pelaksana Percepatan dan Penurunan Stunting di Indonesia pada tanggal 25 Januari 2021.
Menurut Hasto, saat ini yang terjadi di Indonesia dihadapkan pada permasalahan data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, bahwa penurunan prevalensi stunting Balita di tingkat nasional hanya sebesar 6,4% selama periode 5 tahun. Yaitu dari 37,2% (2013) menjadi 30,8% (2018).
Sedangkan untuk balita normal terjadi peningkatan dari 48,6% (2013) menjadi 57,8% (2018).
“Indonesia tercatat sebagai salah satu dari 17 negara yang mengalami beban ganda gizi, baik kelebihan maupun kekurangan gizi. Sedangkan di kawasan Asia Tenggara, prevalensi stunting di Indonesia merupakan tertinggi kedua, setelah Kamboja,” beber Hasto.
Sekadar referensi, stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan.
Anak yang tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus 2 standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya.
Balita/Baduta (Bayi dibawah usia dua tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. “Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan, dan memperlebar ketimpangan,” kata Hasto, menjelaskan.(baz)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional